Hari Peh Cun atau Ng Ngiat Ciat dalam Bahasa Hakka
Bangka jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Di hari ini masyarakat
Tionghoa akan membuat panganan khas bernama Kue Cang (Bak Cang dalam Bahasa
Hokkian atau Nyuk Cung dalam Bahasa
Hakka), yakni beras atau ketan berisi daging atau udang kering dibalut
dengan dedaunan lalu dikukus. Kue Cang khas Hakka Bangka berbeda dengan Kue
Cang dari daerah lain. Jika Kue Cang daerah lain menggunakan balutan daun
bambu, Kue Cang Bangka terkenal dengan balutan daun pandan.
![]() |
| Kue Cang Bangka dengan Daun Pandan |
Hari Peh Cun disambut masyarakat Tionghoa di Bangka dengan
berekreasi ke pantai bersama keluarga dan kerabat. Sebenarnya asal kata Peh Cun
adalah dari Bahasa Mandarin yakni 扒船 Pa Chuan yang berarti mendayung perahu. Memang
perayaan Peh Cun di kawasan Pecinan dimeriahkan dengan perlombaan perahu naga
atau disebut dengan Dragon Boat Festival.
Festival perahu naga tidak ditemui dalam perayaan Peh Cun di Bangka. Biasanya masyarakat
memeriahkannya dengan hanya berkumpul bersama keluarga di pantai sambil
menikmati Kue Cang dan panganan khas Bangka yang lainnya.
![]() |
| Rekreasi keluarga di Pantai Tanjung Ular, Muntok, Bangka Barat, saat perayaan Peh Cun. |
Tradisi Peh Cun sudah dirayakan di Tiongkok sejak 2300 tahun
yang lalu pada masa Dinasti Zhou. Hari Peh Cun adalah diperingati untuk mengenang seorang
menteri negara Chu yang sangat setia pada kerajaan, yakni Qu Yuan. Kontribusinya telah banyak memajukan Negara
Chu. Namun, keluarga kerajaan dan beberapa kelompok pejabat tidak menyukainya
sehingga menyerang Qu Yuan dengan berbagai fitnahan. Akhirnya Qu Yuan diusir
dari ibu kota. Karena keputusasaannya pada negara yang sudah di ujung
kehancuran, Qu Yuan menerjunkan dirinya ke sungai Mi Lou pada bulan 5 tanggal 5
Imlek. Rakyat sangat sedih dan mencari-cari jenazah Qu Yuan
tetapi tak kunjung ditemukan. Rakyat pun membungkus nasi dengan dedaunan lalu
dilempar ke sungai agar ikan dan hewan laut tidak memakan jasad Qu Yuan. Bungkusan itulah yang disebut dengan Kue
Cang. Tradisi melempar Kue Cang ke laut atau sungai pada hari Peh Cun juga
masih dilakukan oleh masyarakat Tionghoa hingga saat ini.
Kegiatan di Hari Peh Cun oleh Masyarakat Bangka
Selain pergi ke pantai, ada beberapa kegiatan unik yang
dilakukan masyarakat Tionghoa Bangka di Hari Peh Cun.
1. Menggantung Rumput Ai dan Chang Pu
Rumput ini biasanya digunakan untuk mengikat
Kue Cang. Masyarakat Tionghoa di Bangka juga menggantungkan seikat rumput Ai
dan Chang Bu di daun pintu sebagai simbol perlindungan terhadap kesehatan. Hari
Peh Cun bertepat dengan datangnya musim panas yang biasanya diikuti banyaknya
penyakit. Masyarakat Tionghoa biasanya melakukan pembersihan rumah dan
menggantung rumput Ai dan Chang Pu di depan pintu sebagai penangkal hawa
negatif.
2. Mendirikan Telur Tepat di Jam 12 Siang
Hari Peh Cun juga bertepatan dengan kuatnya
gravitasi bumi, sehingga dapat mendirikan telur di tempat yang datar. Fenomena ini
banyak dilakukan oleh masyarakat Tionghoa Bangka pada saat menyambut Peh Cun.
![]() |
| Mendirikan telur tepat di jam 12 siang di hari Peh Cun. |
3. Mandi di Tengah Hari
Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan Taiwan, termasuk masyarat Hakka Bangka. Mereka
mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, dipercaya
dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum
setelah dimasak. Tak hanya air, tanaman obat herbal yang dipetik pada
hari Peh Cun dipercaya lebih memiliki khasiat yang tinggi.
Ditulis oleh Suwito Wu




Tidak ada komentar:
Posting Komentar