Serba-serbi dan kumpulan tulisan kreatif anak-anak dan guru SMP Santa Maria Muntok. Selamat membaca, semoga memberikan manfaat yang positif. Setidaknya bisa memberikan hiburan.
Rabu, 13 September 2017
Praktik Bahasa Mandarin Kelas IX Santa Maria (Lagu kelompok1)
Tong Hua
Lagu Praktik untuk Bahasa Mandarin Santa Maria Muntok
Lagu Praktik untuk Bahasa Mandarin Santa Maria Muntok
Minggu, 28 Mei 2017
Hari Peh Cun, Festival Budaya Tionghoa di Bangka
Hari Peh Cun atau Ng Ngiat Ciat dalam Bahasa Hakka
Bangka jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Di hari ini masyarakat
Tionghoa akan membuat panganan khas bernama Kue Cang (Bak Cang dalam Bahasa
Hokkian atau Nyuk Cung dalam Bahasa
Hakka), yakni beras atau ketan berisi daging atau udang kering dibalut
dengan dedaunan lalu dikukus. Kue Cang khas Hakka Bangka berbeda dengan Kue
Cang dari daerah lain. Jika Kue Cang daerah lain menggunakan balutan daun
bambu, Kue Cang Bangka terkenal dengan balutan daun pandan.
![]() |
| Kue Cang Bangka dengan Daun Pandan |
Hari Peh Cun disambut masyarakat Tionghoa di Bangka dengan
berekreasi ke pantai bersama keluarga dan kerabat. Sebenarnya asal kata Peh Cun
adalah dari Bahasa Mandarin yakni 扒船 Pa Chuan yang berarti mendayung perahu. Memang
perayaan Peh Cun di kawasan Pecinan dimeriahkan dengan perlombaan perahu naga
atau disebut dengan Dragon Boat Festival.
Festival perahu naga tidak ditemui dalam perayaan Peh Cun di Bangka. Biasanya masyarakat
memeriahkannya dengan hanya berkumpul bersama keluarga di pantai sambil
menikmati Kue Cang dan panganan khas Bangka yang lainnya.
![]() |
| Rekreasi keluarga di Pantai Tanjung Ular, Muntok, Bangka Barat, saat perayaan Peh Cun. |
Tradisi Peh Cun sudah dirayakan di Tiongkok sejak 2300 tahun
yang lalu pada masa Dinasti Zhou. Hari Peh Cun adalah diperingati untuk mengenang seorang
menteri negara Chu yang sangat setia pada kerajaan, yakni Qu Yuan. Kontribusinya telah banyak memajukan Negara
Chu. Namun, keluarga kerajaan dan beberapa kelompok pejabat tidak menyukainya
sehingga menyerang Qu Yuan dengan berbagai fitnahan. Akhirnya Qu Yuan diusir
dari ibu kota. Karena keputusasaannya pada negara yang sudah di ujung
kehancuran, Qu Yuan menerjunkan dirinya ke sungai Mi Lou pada bulan 5 tanggal 5
Imlek. Rakyat sangat sedih dan mencari-cari jenazah Qu Yuan
tetapi tak kunjung ditemukan. Rakyat pun membungkus nasi dengan dedaunan lalu
dilempar ke sungai agar ikan dan hewan laut tidak memakan jasad Qu Yuan. Bungkusan itulah yang disebut dengan Kue
Cang. Tradisi melempar Kue Cang ke laut atau sungai pada hari Peh Cun juga
masih dilakukan oleh masyarakat Tionghoa hingga saat ini.
Kegiatan di Hari Peh Cun oleh Masyarakat Bangka
Selain pergi ke pantai, ada beberapa kegiatan unik yang
dilakukan masyarakat Tionghoa Bangka di Hari Peh Cun.
1. Menggantung Rumput Ai dan Chang Pu
Rumput ini biasanya digunakan untuk mengikat
Kue Cang. Masyarakat Tionghoa di Bangka juga menggantungkan seikat rumput Ai
dan Chang Bu di daun pintu sebagai simbol perlindungan terhadap kesehatan. Hari
Peh Cun bertepat dengan datangnya musim panas yang biasanya diikuti banyaknya
penyakit. Masyarakat Tionghoa biasanya melakukan pembersihan rumah dan
menggantung rumput Ai dan Chang Pu di depan pintu sebagai penangkal hawa
negatif.
2. Mendirikan Telur Tepat di Jam 12 Siang
Hari Peh Cun juga bertepatan dengan kuatnya
gravitasi bumi, sehingga dapat mendirikan telur di tempat yang datar. Fenomena ini
banyak dilakukan oleh masyarakat Tionghoa Bangka pada saat menyambut Peh Cun.
![]() |
| Mendirikan telur tepat di jam 12 siang di hari Peh Cun. |
3. Mandi di Tengah Hari
Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan Taiwan, termasuk masyarat Hakka Bangka. Mereka
mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, dipercaya
dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum
setelah dimasak. Tak hanya air, tanaman obat herbal yang dipetik pada
hari Peh Cun dipercaya lebih memiliki khasiat yang tinggi.
Ditulis oleh Suwito Wu
Minggu, 05 Februari 2017
Obat dari Cai Lam Sin
Pada
zaman dahulu, hiduplah seorang janda
yang sedang hamil besar. Ia tinggal di di kampung pecinan Tionghoa, Desa Jebu
Laut, Parittiga, Bangka Barat. Kehidupannya yang miskin membuatnya tidak dapat
pergi ke dukun beranak karena tidak punya uang atau pun benda yang dapat
diberikan kepada dukun itu sehingga ia harus melahirkan anaknya sendiri. Dengan
susah payah ia mengerang, melahirkan anaknya. Beberapa menit kemudian,
terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. Kebahagiaan meliputi janda
itu, tak disangka ia melahirkan dua anak kembar berkelamin laki-laki. Anehnya,
hanya ada satu anak yang menangis dan satu lagi tidak. Janda itu memberi nama
anaknya Achau dan Atiam. Chau yang
berarti berisik dan Tiam berarti diam, sesuai dengan perawakan mereka masing-masing.
Walaupun
seorang janda, ia bisa menghidupi kedua anaknya sampai remaja. Suatu hari, sang
Janda menyuruh anaknya untuk mencari kayu bakar dan hewan di hutan untuk mereka
santap saat makan malam. Sesampainya di hutan, mereka membagi tugas. Achau membunuh
hewan, sedangkan Atiam mencari kayu bakar dan buah-buahan. Lalu, mereka
berpisah di hutan.
Achau melihat seekor kancil, ia segera
mengarahkan anak panahnya, tetapi kancil itu sudah sadar bahwa ia akan diburu.
Kancil itu langsung melesat melarikan diri ke tengah hutan yang rimbun. Achau terus
mengejar dan mengejar kancil tersebut sampai akhirnya ia masuk ke dalam bagian
hutan yang asing baginya. Ia pun tersesat di hutan. Terdengar teriakan
seseorang meminta tolong yang berasal dari dalam hutan.
“Tolong...
tolong...!” teriak orang itu.
Atiam pun melihat ke arah suara itu berasal,
ia segera berlari menuju tempat suara itu datang. Sesampainya di posisi sumber
suara itu, ia terkejut melihat Achau yang sedang ketakutan karena di hadapannya
ada seekor ular putih yang siap memangsanya. Dengan cepat Atiam memukul ular
itu dengan kayu bakar yang dibawanya.
“Terima kasih, Atiam!” kata Achau ketakutan.
“Sama-sama.
Kita kan saudara, jadi jika kau berada dalam masalah, aku akan menolongmu,”
jawab Atiam.
Mereka pun kembali ke rumah bersama. Ibunya sudah khawatir karena
hari sudah hampir gelap, tetapi anaknya belum pulang juga.
“Ame[1]!!!”
teriak Atiam dan Achau dari kejauhan.
“Maaf, Me.
Atiam tidak bisa mencarikan hewan untuk kita santap,” kata Atiam.
“Ame,
tadi Achau hampir digigit ular, untunglah Atiam datang menolongku,” kata Achau.
“Tidak
apa-apa Achau, yang penting kamu selamat.” Sang ibu memberikan senyum untuk
menenangkan suasana.
Akhirnya, mereka hanya memakan buah-buahan
yang dibawa oleh Atiam.
Malam
harinya, angin berhembus kencang, sehingga jendela kamar Atiam dan Achau terbuka.
Terdengarlah suara seorang wanita yang menangis, Atiam dan Achau pun terbangun.
Mereka melihat ke luar jendela, terlihat seorang wanita yang sedang menangis di
bawah pohon di samping rumah mereka. Mereka segera keluar dari rumah dan
mendatanginya.
“Mengapa
kau menangis?” tanya Achau pada wanita itu.
“Aku dipukul oleh seorang laki-laki,” jawab
wanita itu.
“Siapa
yang memukul engkau?” tanya Atiam.
“Kau!
Kau yang telah memukulku! Kau harus mati!” gertak wanita itu.
Achau dan Atiam terdiam bingung.
“Hah!
Itu tak mungkin! Kami tak mengenal siapa engkau!” seru Atiam.
Seketika
wanita itu berubah menjadi seekor ular putih. “Kau! Kau harus mati!!” teriak
siluman itu. Sang siluman menggigit kaki Atiam, dan bisanya itu seketika
membuat Atiam terjatuh tak sadarkan diri. Ular itu segera pergi masuk ke dalam
hutan.
“Atiam... Atiam bangun,” teriak Achau. Ia menggendong Atiam masuk ke dalam rumah . Ia
segera memanggil Ame.
“Ame...,
Me..., Atiam pingsan!”
Dengan segera Ame keluar dari kamar.
“Kenapa dia?” tanya Ame khawatir.
“Dia
digigit ular siluman,” jawab Achau. Kaki dan tangan Atiam tidak bisa
digerakkan. Perlahan-lahan bisa itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat
mulutnya tak bisa digerakkan.
Pada
malam harinya, Ame mendapatkan mimpi
dari siluman ular putih itu dan ia berkata, “Anakmu tak akan mati, ia hanya
akan lumpuh.”
Keesokan
harinya Ame menceritakan semua
mimpinya pada Achau. Ame memutuskan
bahwa ia harus membawa Atiam ke tabib, tetapi tabib tak bisa menyembuhkan Atiam.
Tanpa putus asa, Ame membawa ia ke
berbagai macam dukun, thai pak[2],
dan yang lainnya. Tapi, tak ada yang bisa menyembuhkan Atiam. Ame telah mencoba memberikan Atiam
obat-obatan herbal, tapi kelumpuhan itu tak bisa disembuhkan. Ame menyerah, ia memohon pada Thien Akung [3]agar
dapat menyembuhkan anaknya.
Beberapa
hari kemudian, di pagi hari Ame bercerita
dengan Achau.
“Achau,
semalam Ame mendapatkan mimpi dari
ayahmu.”
“Apa
yang Apa [4]katakan?”
Tanya Achau .
“Ayahmu mengatakan, Atiam tak akan mati. Kau
harus mengundang Dewa Keranjang , Ia tahu apa obat untuk menyembuhkan Atiam.” Kata Ame.
“Bagaimana cara mengundang sang dewa ?” tanya
Achau penasaran.
“Dengan
cara membuat sebuah keranjang yang digantung banyak kunci, dipakaikan baju
serta diikatkan arang sebagai alat tulis. Dan harus dimainkan oleh 2 orang
remaja dan diucapkan mantra-mantra pemanggil arwah untuk menggerakkannya.
Ketika keranjang telah bergerak
sendiri, harus disiapkan kertas sebagai wadah yang akan ditulis. Kita bisa
bertanya apa saja padanya,” jelas Ame.
“Oh
iya, kita harus memainkannya pada saat malam bulan pernama pada bulan ke
delapan penanggalan Tionghoa,” tambah
Ame.
“Kapan
itu bulan purnama?” tanya Achau ingin
tahu.
“Malam
ini tepatnya,” jawab Ame.
“Ayo
cepat kita buat dewa keranjang itu!” kata Achau.
Mendengar
hal itu, Ame segera mencari bambu
untuk dibuatkan keranjang. Ia menuju hutan untuk mengambil bilah-bilah bambu.
Sepulangnya dari hutan, ia langsung mulai menganyam bambu menjadi keranjang.
Achau mencari arang untuk menjadi alat tulis sang dewa.
Semua
barang-barang yang mereka perlukan sudah ada. Segalanya telah siap. Keranjang
yang sudah diberi ranting sebagai tangan, dipakaikan baju dan diikatkan arang.
Bagian tangannya digantung berbagai macam kunci. Malam pun tiba, cahaya bulan
purnama bersinar dengan terang. Disiapkan berbagai macam buah dari hutan dan
air putih sebagai sesajen. Dan dinyalakanlah dupa sebagai tanda pengundangan Dewa
Keranjang. “Tetapi, hanya satu orang remaja yang memegang keranjang itu,” kata Ame.
“Bagaimana
kalau kita ajak Atiam?” tanya Achau kepada
Ame.
“Kamu gendong Atiam ke sini!”
“Baik,
Me,” jawab Achau.
Atiam
pun didudukkan di atas tanah. Ia hanya terpaku melihat suatu benda yang aneh di
hadapannya.
“Atiam, ia adalah Dewa Keranjang. Ia yang akan
memberi tahu obat apa yang dapat menyembuhkan engkau,” jelas
Ame pada Atiam.
“Kamu harus berusaha memegang keranjang itu,”
kata Ame.
Walaupun
Atiam lumpuh, tetapi ia yakin pasti bisa memegang keranjang itu. Dengan sekuat tenaga Atiam berusaha menggerakkan tangannya
untuk memegang keranjang itu. Namun, tangannya tidak bisa digerakkan. Tanpa
putus ada ia terus berusaha menggerakkan. Namun, apa daya, kelumpuhan memaksanya untuk tetap tidak bergerak. Ame bersembahyang pada Thien Akung agar memberikan mukjizat
pada Atiam. Ame menancapkan dupa pada tanah dekat keranjang.
Atiam kembali mencoba menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan tangannya mulai
bergerak. Hanya tangannya yang bereaksi. Anggota badan lain tidak. Perlahan ia
mampu memegang keranjang itu.
Atiam
dan Achau memegang keranjang itu, Ame menancapkan
dupa kedua kalinya dan membacakan mantra berulang-ulang, tapi masih belum ada
reaksi apa pun. Keranjang itu tetap
diam tanpa ada gerakan sedikit pun.
“Tolong,
datanglah Dewa Keranjang, untuk
menyembuhkan anakku. Saya berjanji saya dan anak cucu saya akan mengundang
Engkau lagi jika Engkau menyembuhkan anak saya.” Ame membacakan mantra yang sama berulang kali yang tak dimengerti
oleh kedua anaknya. Angin berhembus dengan kencang secara tiba-tiba setelah Ame membacakan mantra tersebut sebanyak
3 kali. Ame kembali membaca mantra
itu dengan semangat yang berapi-api, dan keranjang itu menjadi sangatlah berat. “Me,
berat sekali!” kata Achau. Dentingan-dentingan kunci mulai terdengar. Semakin
lama, semakin kencang. Keranjang itu telah bereaksi dan mengangguk-ngangguk.
Ame
langsung berkata, “Dewa, boleh saya bertanya sesuatu?” Dewa Keranjang pun
mengangguk yang berarti ‘iya’.
“Dewa,
apakah Engkau tahu obat apa yang dapat menyembuhkan Atiam?” tanya Ame. Sang Dewa mengangguk, lalu ia
menulis beberapa kata di sebuah kertas. Awalnya tulisan itu terlihat sangat
sulit untuk dibaca, tapi lama kelamaan tulisan itu membentuk beberapa patah
kata. Nun Jai Sui[5]
dan Jarak. Itu lah bahan-bahannya yang akan dibuat menjadi minuman.
“Apakah
masih ada yang lain, Dewa?” tanya Ame.
Sang Dewa pun mendongak ke belakang
yang berarti ‘tidak’.
“Terima
kasih, Dewa. Saya akan menepati janji
saya yang tadi saya katakan pada engkau,” kata Ame. Keranjang itu pun berhenti bergerak.
Keesokan
harinya, Ame mencari buah jarak dan
air kelapa muda, lalu dibuatkannya menjadi jamu. Ame memberi minuman itu kepada Atiam. Dengan seketika Atiam dapat
berdiri dan bergerak. “Sungguh aku berterima kasih, Thien Akung, karena Kau telah mengirimkan Dewa Keranjang pada kami.
Ritual
memanggil Dewa Keranjang pun menjadi sangat terkenal saat itu terutama di
kalangan masyarakat Tionghoa di Parittiga dan Jebus, Bangka Barat. Ritual ini
dikenal sebagai Cai Lam Sin yang
berarti Dewa Keranjang oleh masyarakat Tionghoa Keturunan Hakka di Pulau Bangka. Biasanya
masyarakat Tionghoa akan melakukan ritual Cai Lam Sin saat chit ngiat[6]
menjelang perayaan perjamuan setan kelaparan atau disebut Sembahyang Rebut di Bangka Belitung. Awalnya, ritual ini
digunakan dengan tujuan menanyakan obat untuk kesembuhan. Lama-kelamaan
pergeseran makna dan tujuan dari ritual mulai terjadi. Banyak yang
menyalahgunakannya untuk perjudian, dan lain-lain. Masyarakat Tionghoa Bangka
percaya bahwa Cai Lam Sin itu adalah
Dewa Cai Lam atau dikenal dengan nama
Dewa Keranjang yang senang pada anak-anak kecil.
Kisah
Achau dan Atiam yang memohon pertolongan Cai Lam Sim mengajarkan kekompakan
keluarga dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
[1] Ame:
panggilan untuk Ibu dalam Dialek Hakka Bangka
[2] Thai
Pak: Paranormal Tionghoa di Bangka
[3] Thien Akung: Sebutan Tuhan dalam Bahasa Hakka
Bangka
[4] Apa: Panggilan untuk Ayah oleh
masyarakat Tionghoa Bangka
[5] Nun Jai Sui : Air kelapa muda.
[6] Chit ngiat: Bulan 7 Imlek, masa di mana dipercayai oleh
orang Tionghoa, pintu neraka jalur setan kelaparan dibuka lebar. Arwah-arwah
dari neraka akan berkeliaran bebas di alam manusia.
Ditulis oleh Seftian Jerry
Misteri Wak Tebuk
“Jangan pergi ke hutan itu, nanti ada Wak Tebuk!” Peringatan ini tidak asing terdengar
di tengah masyarakat Bangka Barat khususnya di Muntok. Begitulah cara orang tua menakuti anak-anaknya
agar menuruti nasihat. Wak Tebuk konon digambarkan memiliki rupa
yang menyeramkan dan suka menculik anak kecil. Ada yang mengatakan bahwa Wak Tebuk menculik lalu memenggal kepala anak kecil
untuk di jadikan jembatan. Ada
pula yang mengatakan bahwa Wak Tebuk memangsa anak kecil dengan memakan jantung dan hatinya.
Tak sedikit pula masyarakat yang menganggap
Wak Tebuk hanya dibuat-buat untuk menakuti anak-anak. Walaupun banyak yang
menyangkal keberadaannya, hingga saat ini banyak juga yang percaya kejadian
hilangnya anak kecil berhubungan dengan aksi Wak Tebuk. Keyakinan tentang
adanya Wak Tebuk dikarenakan banyaknya cerita orang yang pernah menjumpainya.
Sejak dulu kala, sosok Wak Tebuk menjadi sosok yang misterius.
Pada
jaman dahulu, di Muntok, Bangka Barat, tinggallah sebuah keluarga
yang hidup sederhana. Dalam keluarga tersebut hanya ada ibu dan
2 orang putranya. Ayah mereka telah lama meninggal.
Untuk menafkahi kedua orang anaknya , sang
ibu bekerja sebagai penenun kain cual[1]. Walaupun hasilnya tidak seberapa,
uangnya cukup untuk kehidupan keluarga mereka.
Kesederhanaan tidak mengurangi kebahagiaan keluarga ini. Kepatuhan 2 putranya membuat
sang ibu tidak merasakan beban hidup.
Apalagi kedua putranya dapat membantu
sang ibu dalam mengurus rumah dan kehidupan sehari-hari.
Putra sulung bernama Damar ,yang bungsu bernama Baiwara.
“Damar,
coba kau ajak adikmu ke hutan untuk cari kayu bakar,” ujar sang ibu.
“Baik,
Mak!” Damar langsung bergegas mempersiapkan peralatan untuk memotong kayu.
“Ingat lah,
sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!”
“Baik, Mak!” tanpa membantah mereka pun langsung bergegas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Dengan berwajah tenang dan penuh senyum, sang ibu tampak sangat yakin dan tak risau kepada anaknya.
Sesungguhnya kecemasan selalu mengisi ruang
kosong hati sang ibu di setiap kepergian anak-anaknya. Ada sesuatu yang membuat
dirinya takut. Tatkala dirundung kekhawatiran, sang ibu mencoba meyakinkan
dirinya sendiri bahwa kedua putranya adalah anak yang patuh.
Sementara
itu, Damar dan Baiwara dengan penuh semangat mencari kayu bakar. Rasa lelah pun
tidak terasa karena mereka sudah terbiasa. Matahari pun sudah tampak di ufuk barat
langit. Kicauan burung bersahutan sembari terbang kembali ke sarang. Tak terasa
waktu sangat cepat berlalu, sekarang langit tampak berwarna kuning kemerah-merahan.
“Dik, langit sudah mulai gelap, cepat kita selesaikan
pekerjaan kita dan pulang ke rumah! Nanti Emak khawatir pula sama kita.”
“Bang, aku punya usul!”
Suasana yang tenang dan damai dalam hati Damar karena sudah
ingin pulang, sontak terpecahkan oleh semangat sang adik yang selalu bersikap kekanak-kanakan.
Dengan penuh kebijaksanaan dan wajah tenangnya itu, Damar diam dan mendengarkan
usul.
”Bagaimana
kalau kita cari kayu bakar lebih banyak lagi. Biar pulang malam sedikit tidak
apa-apa. Pasti nanti hasilnya kita akan lebih banyak dari pada biasanya. Ibu pasti
senang!” usul Baiwara kepada kakaknya.
“Ingat kata
Emak, Dik! Kita harus pulang sebelum langit mulai gelap. Selalu diulang-ulang, tidak boleh sampai
langit gelap! Pantang sekali! Tidak mungkin kan Emak mengatakan sebuah
pantangan tanpa alasan. Mungkin saja ada sesuatu yang berbahaya, walaupun Emak
tidak pernah menjelaskan alasanya kepada kita.” jelas Damar seraya menyusun
gundukan kayu-kayu kecil yang mereka kumpulkan.
“Ayolah,
bang! Sekali-kali saja! Kan kita tidak berbuat salah?” rayu Baiwara sembari
merengek-rengek.
Damar
diam sejenak. Wajah Baiwara mulai ditekuk.
“Ehm…baiklah!
Baiklah!Kita teruskan.”
“Hore!”
sorak Baiwara. Wajahnya berubah menjadi girang. Bergegas mereka mengeluarkan
parang,menebas ranting-ranting dan batang kayu kecil.
Matahari
sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Berganti rembulan purnama menghiasi
langit malam. Suara jangkrik malam sayup-sayup terdengar dari setiap sisi gelap
hutan. Temaram sinar bulan cukup membantu mereka bekerja.
“Sepertinya
kita cukupkan saja sampai di sini! Jika terlalu larut Emak bisa khawatir
menunggu kita. Terlalu banyak kayu yang dibawa juga tidak mungkin sanggup kita
bawa.” ujar Damar.
“Iya
Bang, aku juga sudah lelah!” balas Baiwara setuju.
“Lihat,
Bang! Tidak ada apa-apa kan kalau kita pulang agak malam! Sebenarnya tidak
masalah kalau kita pulang malam-malam.”
“Wew,
budak[2] neh! Memang tidak ada
masalah apa-apa. Kalau sampai di rumah, Emak ngeroce[3],
itulah baru kau tahu masalahnya!”
Baiwara
cuma senyam-senyum diceramahi sang kakak. “Justru ibu harusnya senang, kita ini
rajin, Bang!”
Damar
tidak berkata apa-apa lagi. Bergegas mereka memanggul kayu-kayu kecil mereka
yang sudah diikat dengan tali dari rotan.
***
Sesampainya
di rumah, sang ibu sudah berdiri di depan pintu dengan perasaan gundah.
Menunggu dengan muka asamnya. Belum sampai dua kakak adik itu masuk ke dalam
pekarangan rumah, sang ibu sudah mulai ngeroce.
“Kalian ini sudah mulai bisa membantah kata
Emak ya! Emak sudah bilang kan sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!
Emak sudah khawatir menunggu kalian berdua ini! Kalian ditangkap Wak Tebuk baru
tahu rasa!” sang Ibu memarahi kedua putra nya sambil mengangkat-angkat jari
telunjuknya.
Damar
dan Baiwara hanya tertunduk diam. Hening sesaat. Hanya terdengar deringan
jangkrik malam bersahut-sahutan.
“Coba
Emak lihat ini, hasil kami dari hutan mencari kayu bakar. Bahkan tidak terjadi apa-apa
sama kami.” Baiwara memberanikan diri untuk mencela kesunyian.
“Kalian
ini, sejak kapan kalian menjadi nakal seperti ini?
Dengar! Kayu bakar itu tidak ada bandingannya dengan nyawa
kalian.”
“Wak Tebuk itu apakah ada, Mak! Kata temanku
itu hanya bohong-bohongan orang dewasa saja!” Damar mulai ikut memberanikan
diri menanggapi nasihat ibunya.
Sang
ibu menarik napas dalam-dalam. Kali ini ia mulai melembutkan suaranya.
“Damar,
Baiwara, kalian lah harta Emak yang paling berharga. Emak hanya punya kalian.
Dengarkanlah perkataan orang tua kalian satu-satunya ini! Kalau kalian mulai
suka membantah begini, nanti akan tahu terkena bala.”
Damar
dan Baiwara tak berani bicara apa-apa lagi. Setelah bersama makan malam, mereka
langsung pergi ke tempat tidur masing-masing.
Malam itu, Damar dan Baiwara tak bias tertidur lelap. Keduanya memikirkan tentang
Wak Tebuk. Walaupun sudah dinasihati, mereka masih belum percaya tentang adanya
sosok misterius yang sudah menjadi buah bibir warga desa sejak lama.
Selisih
paham ini pun berlalu terbawa waktu. Beberapa hari kemudian, Damar dan Baiwara
seperti biasanya kembali ditugaskan untuk mengambil kayu bakar di hutan.
Persedian kayu bakar di dapur mereka sudah mulai habis. Kegiatan mengambil kayu
bakar menjadi aktivitas kesukaan mereka. Apalagi di sela-selanya, mereka bisa
sambil memetik buah kemunting[4], atau menjerat burung puyuh.
Kali
ini, setelah pamit, sang ibu tidak seperti biasa menitipkan nasihatnya. Sang
ibu asyik berkonsentrasi menyelesaikan tenunan cual yang hampir jadi. Tiba-tiba saja kain tenunannya itu putus dan
batang kayu yang digunakan untuk memisahkan celah-celah benang patah menjadi
dua. Sesaat sang ibu termenung. Ia takut ini adalah adanya pertanda tidak baik.
Lantas sang ibu segera mengabaikan firasatnya. Ia mencoba menghibur dirinya
dengan sambil berdendang.
Sementara
itu, Baiwara dan Damar menyusuri semak-semak belukar di tengah hutan sambil
mencari kayu-kayu kering. Kucuran keringat yang mulai mengalir menandakan
kelelahan mulai terasa. Mereka pun mencari tempat yang agak lapang untuk
beristirahat sejenak.
“Bang, nanti kita main sembunyichong[5], yuk! Sudah lama kita tidak main. Sepertinya
seru main di sini.”
“Boleh
juga, tempat ini cocok untuk kita bermain!”
Setelah
membereskan kayu-kayu yang sudah terkumpul, mereka pun bermainsembunyihong. Begitu serunya bermain, mereka sampai lupa
waktu. Senja pun mulai datang. Langit pun perlahan menjadi gelap. Mereka telah
larut dalam tawa saling mencari dan bersembunyi.
Ketika
itu Damar berjongkok, menundukkan kepala dan menutup matanya dengan kedua
lengan.
“Lahhhh lum? Lah lum?” Beberapa saat setelah menunggu dengan posisi
berjongkoknya, Damar mulai beranjak siap mencari sang adik. Sambil
berjingkat-jingkat, Damar menyusuri setiap sisi sekitar tempat mereka bermain.
Sesekali ia dengan gerakan lambatnya melirik-lirik ke kanan, kiri dan
belakangnya.
Setelah
sekian lama tidak menemukan adiknya, Damar mulai resah. Kemana adiknya
bersembunyi.
“Baiwara!
Baiwara! Kemana kau?” teriak Damar berputar ke kanan dan ke kiri.
“Baiwara!
Abang menyerah! Tak tahu kau sembunyi dimana?” teriakan Damar
semakin keras.
Beberapa
saat menunggu, tak ada balasan apa-apa. Tak ada bunyi teriakan “Hong[6]!” dari Baiwara. Bahkan
bunyi langkah tapak kaki pun tidak sedikitpun terdengar.
“Baiwara,
ayo lah! Sudah mulai gelap ini! Abang tak mau main lagi! Kita mau pulang!”
kembali Damar berteriak.
“Baiwara!
Keluarlah! Kalau tidak, Abang tinggal kau!” suara Damar semakin
tegas. Tetapi sesaat kemudian, tidak ada balasan apa-apa ataupun tanda
kedatangan sang adik. Damar mulai tampak semakin cemas.
“Aduh,
kemana anak satu ini!” gumam Damar mulai kesal.
Ia mulai menyusuri semak-semak hutan semakin jauh lagi dari area mereka
bermain.
“Baiwara!
Ohhh Baiwara!” kecemasan Damar semakin menjadi-jadi. Kali ini
kekesalannya berubah menjadi kecemasan yang amat sangat. Betapa tidak. Baiwara
baru berusia 10 tahun. Adiknya sangat bergantung padanya. Kalau saja
ditinggalkan, pasti Baiwara tidak tahu jalan pulang.
“Baiwara!”
suara Damar agak serak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ketakutan bercampur segala
dugaan yang tak karuan merasuk ke dalam batinnya. Damar mulai merasakan Baiwara
tidaklah bersembunyi. Baiwara pasti sudah menghilang. Ia menyadari adiknya
pasti dalam keadaan takut yang sama dengan dirinya. Bahkan adiknya pasti bisa
lebih takut lagi.
“Sreettt!” tiba-tiba terdengar seretan
kaki di antara semak-semak ranting dan daun kering.
Damar
menoleh ke arah sumber suara.
“Baiwara,
itu kah kau?”
Sinar
matahari yang sudah nyaris tak ada lagi, menyisakan bayang-bayang pohon dan
tanaman semak. Damar tidak melihat adiknya. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada
bayang hitam menyerupai sosok orang besar tinggi, berambut gondrong. Tangannya
menggenggam sebuah benda berbentuk bulat menyerupai kepala manusia. Damar
melongo sesaat, matanya terbelalak. Ia bergerak mundur. Dengan penuh ketakutan
ia berlari menjauhi sosok banyangan itu.
Larinya
kencang sekali sambil menangis ketakutan. Ia tidak memikirkan ranting-ranting
kayu dan taman semak yang menyayat betisnya. Kali ini ia tidak berteriak
memanggil nama adiknya.
“Emaaakkkk!
Maaaaakkkkk! Tolong Makkkk!” teriak Damar sekencang-kencangnya. Takutnya Damar
bukan kepalang.
***
Sementara,
Sang ibu di depan pekarang rumah lagi-lagi menunggu dengan perasaan cemas. Ia
mondar-mandir. Duduk. Berdiri. Duduk. Berdiri. Menanti kedua anaknya yang tak
kunjung datang.
Sayup-sayup
dari kejauhan terdengar suara teriakan bocah memanggilnya. “Mak!” Suara itu
semakin terdengar jelas. Sang ibu bergegas berdiri, mengamati kegelapan malam
di antara belantara semak belukar. Sosok bocah yang adalah anaknya sendiri tampak
berlari terengah-engah.
“Ada
apa Damar? Ini kan sudah malam, jangan teriak-teriak!” Ibu mulai panik
melihat wajah ketakutan putra sulungnya itu.
“Makkk!” kata Damar dengan napas tersengal sambil menunjuk
ke arah hutan. Tangan kirinya mengelus dada. Ia belum bisa memberi penjelasan.
Sesaat masih mengatur napasnya.
“Adik, Makkkk! Adik!” Damar setengah berteriak, setengah menangis, napasnya masih belum tenang.
“Ada apa, Damar? Ayo cepat katakan! Mana adikmu?”
“Adik hilang, Mak! “
Setelah menarik napas yang cukup panjang akhirnya Damar memberanikan dirinya untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi.
Tanpa ia sadari, dirinya jatuh tertelungkup tak berdaya
dan air mata yang tak terbendung membasahi kedua pipinya yang sudah mulai mengkerut
itu.
***
Kabar
kehilangan Baiwara dengan sangat cepat menyebar kemana-mana dan menjadi buah bibir
masyarakat. Kuat diduga Baiwara telah menjadi mangsa Wak Tebuk. Karena isu itu
semua anak-anak di desa tidak berani keluar dari rumah, walaupun hanya untuk
bermain. Mereka takut ditangkap Wak Tebuk. Sejak kisah ini beredar, anak-anak juga
tabuh bermain sembunyi hong menjelang
magrib dan malam hari.
Walaupun
Wak Tebuk ini hanyalah sebuah mitos, sampai sekarang misteri keberadaanya masih
terus beredar hingga saat ini. Bahkan terkadang kasus penculikan anak di suatu daerah,
khususnya di Muntok, Bangka Barat selalu saja dikaitkan dengan Wak Tebuk. Orang
tua selalu menggunakan sosok Wak Tebuk untuk membuat anak mereka menjadi penurut.
Sebagai
mana pun sosok Wak Tebuk yang penuh misteri, kisah ini ingin menyampaikan pesan
kepada anak-anak dan remaja untuk menghormati nasihat orang tua. Geliat anak
muda biasanya penuh dengan rasa penasaran dan selalu ingin mencari sesuatu yang
menantang. Melalui kisah ini, hendak menyampaikan kepada generasi muda,
walaupun kita diberi kebebasan beraktivitas dan berekspresi, jangan lah
bertindak sembarangan apalagi melanggar norma-norma dalam masyarakat. Jika suka
bertindak sembarangan, bukan tidak mungkin bahaya dan malapetaka ada di depan
mata.
[2]Budak:sebutananakkecil di Bangka Barat
[3]Ngeroce:marah,bahasadaerah di beberapadaerah Bangka
[4]BuahKemunting:Buah yang rasanyamanisdanberbijikecilbanyak ditemukan di hutan semak belukar di Bangka Barat
[6] Hong : Ucapan yang dikatakanpemain yang
berhasillolosdaripenjagaan,saatbermainpetakumpet
Dikarang oleh Wendy Montela
Langganan:
Postingan (Atom)





