Minggu, 05 Februari 2017

Obat dari Cai Lam Sin

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang  janda yang sedang hamil besar. Ia tinggal di di kampung pecinan Tionghoa, Desa Jebu Laut, Parittiga, Bangka Barat. Kehidupannya yang miskin membuatnya tidak dapat pergi ke dukun beranak karena tidak punya uang atau pun benda yang dapat diberikan kepada dukun itu sehingga ia harus melahirkan anaknya sendiri. Dengan susah payah ia mengerang, melahirkan anaknya. Beberapa menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. Kebahagiaan meliputi janda itu, tak disangka ia melahirkan dua anak kembar berkelamin laki-laki. Anehnya, hanya ada satu anak yang menangis dan satu lagi tidak. Janda itu memberi nama anaknya Achau dan Atiam. Chau yang berarti berisik dan  Tiam berarti diam, sesuai dengan perawakan mereka masing-masing.

Walaupun seorang janda, ia bisa menghidupi kedua anaknya sampai remaja. Suatu hari, sang Janda menyuruh anaknya untuk mencari kayu bakar dan hewan di hutan untuk mereka santap saat makan malam. Sesampainya di hutan, mereka membagi tugas. Achau membunuh hewan, sedangkan Atiam mencari kayu bakar dan buah-buahan. Lalu, mereka berpisah di hutan.

Achau melihat seekor kancil, ia segera mengarahkan anak panahnya, tetapi kancil itu sudah sadar bahwa ia akan diburu. Kancil itu langsung melesat melarikan diri ke tengah hutan yang rimbun. Achau terus mengejar dan mengejar kancil tersebut sampai akhirnya ia masuk ke dalam bagian hutan yang asing baginya. Ia pun tersesat di hutan. Terdengar teriakan seseorang meminta tolong yang berasal dari dalam hutan.

“Tolong... tolong...!” teriak orang itu.

Atiam pun melihat ke arah suara itu berasal, ia segera berlari menuju tempat suara itu datang. Sesampainya di posisi sumber suara itu, ia terkejut melihat Achau yang sedang ketakutan karena di hadapannya ada seekor ular putih yang siap memangsanya. Dengan cepat Atiam memukul ular itu dengan kayu bakar yang dibawanya.

 “Terima kasih, Atiam!” kata Achau ketakutan.

“Sama-sama. Kita kan saudara, jadi jika kau berada dalam masalah, aku akan menolongmu,” jawab Atiam.

Mereka pun kembali ke rumah bersama. Ibunya sudah khawatir karena hari sudah hampir gelap, tetapi anaknya belum pulang juga.

Ame[1]!!!” teriak Atiam dan Achau dari kejauhan.

 “Maaf, Me. Atiam tidak bisa mencarikan hewan untuk kita santap,” kata Atiam.

 “Ame, tadi Achau hampir digigit ular, untunglah Atiam datang menolongku,” kata Achau.

“Tidak apa-apa Achau, yang penting kamu selamat.” Sang ibu memberikan senyum untuk menenangkan suasana.

Akhirnya, mereka hanya memakan buah-buahan yang dibawa oleh Atiam.

Malam harinya, angin berhembus kencang, sehingga jendela kamar Atiam dan Achau terbuka. Terdengarlah suara seorang wanita yang menangis, Atiam dan Achau pun terbangun. Mereka melihat ke luar jendela, terlihat seorang wanita yang sedang menangis di bawah pohon di samping rumah mereka. Mereka segera keluar dari rumah dan mendatanginya.

“Mengapa kau menangis?” tanya Achau pada wanita itu.

 “Aku dipukul oleh seorang laki-laki,” jawab wanita itu.

“Siapa yang memukul engkau?” tanya Atiam.

“Kau! Kau yang telah memukulku! Kau harus mati!” gertak wanita itu.

Achau dan Atiam terdiam bingung.

“Hah! Itu tak mungkin! Kami tak mengenal siapa engkau!” seru Atiam.

Seketika wanita itu berubah menjadi seekor ular putih. “Kau! Kau harus mati!!” teriak siluman itu. Sang siluman menggigit kaki Atiam, dan bisanya itu seketika membuat Atiam terjatuh tak sadarkan diri. Ular itu segera pergi masuk ke dalam hutan.

 “Atiam... Atiam bangun,” teriak Achau.  Ia menggendong Atiam masuk ke dalam rumah . Ia segera memanggil Ame.

 “Ame..., Me..., Atiam pingsan!”

 Dengan segera Ame keluar dari kamar.

 “Kenapa dia?” tanya Ame khawatir.

“Dia digigit ular siluman,” jawab Achau. Kaki dan tangan Atiam tidak bisa digerakkan. Perlahan-lahan bisa itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat mulutnya tak bisa digerakkan.

Pada malam harinya, Ame mendapatkan mimpi dari siluman ular putih itu dan ia berkata, “Anakmu tak akan mati, ia hanya akan lumpuh.”

Keesokan harinya Ame menceritakan semua mimpinya pada Achau. Ame memutuskan bahwa ia harus membawa Atiam ke tabib, tetapi tabib tak bisa menyembuhkan Atiam. Tanpa putus asa, Ame membawa ia ke berbagai macam dukun, thai pak[2], dan yang lainnya. Tapi, tak ada yang bisa menyembuhkan Atiam. Ame telah mencoba memberikan Atiam obat-obatan herbal, tapi kelumpuhan itu tak bisa disembuhkan. Ame menyerah, ia memohon pada Thien Akung [3]agar dapat menyembuhkan anaknya.

Beberapa hari kemudian, di pagi hari Ame bercerita dengan Achau.

“Achau, semalam Ame mendapatkan mimpi dari ayahmu.”

“Apa yang Apa [4]katakan?” Tanya Achau .

 “Ayahmu mengatakan, Atiam tak akan mati. Kau harus mengundang Dewa Keranjang , Ia tahu apa obat untuk menyembuhkan  Atiam.” Kata Ame.

 “Bagaimana cara mengundang sang dewa ?” tanya Achau penasaran.

“Dengan cara membuat sebuah keranjang yang digantung banyak kunci, dipakaikan baju serta diikatkan arang sebagai alat tulis. Dan harus dimainkan oleh 2 orang remaja dan diucapkan mantra-mantra pemanggil arwah untuk menggerakkannya. Ketika keranjang telah bergerak sendiri, harus disiapkan kertas sebagai wadah yang akan ditulis. Kita bisa bertanya apa saja padanya,” jelas Ame.

“Oh iya, kita harus memainkannya pada saat malam bulan pernama pada bulan ke delapan penanggalan Tionghoa,” tambah Ame.

“Kapan itu bulan purnama?” tanya Achau ingin tahu.

“Malam ini tepatnya,” jawab Ame.

“Ayo cepat kita buat dewa keranjang itu!” kata Achau.

Mendengar hal itu, Ame segera mencari bambu untuk dibuatkan keranjang. Ia menuju hutan untuk mengambil bilah-bilah bambu. Sepulangnya dari hutan, ia langsung mulai menganyam bambu menjadi keranjang. Achau mencari arang untuk menjadi alat tulis sang dewa.

Semua barang-barang yang mereka perlukan sudah ada. Segalanya telah siap. Keranjang yang sudah diberi ranting sebagai tangan, dipakaikan baju dan diikatkan arang. Bagian tangannya digantung berbagai macam kunci. Malam pun tiba, cahaya bulan purnama bersinar dengan terang. Disiapkan berbagai macam buah dari hutan dan air putih sebagai sesajen. Dan dinyalakanlah dupa sebagai tanda pengundangan Dewa Keranjang. “Tetapi, hanya satu orang remaja yang memegang keranjang itu,” kata Ame.

“Bagaimana kalau kita ajak Atiam?” tanya Achau kepada Ame.

 “Kamu gendong Atiam ke sini!”

“Baik, Me,” jawab Achau.

Atiam pun didudukkan di atas tanah. Ia hanya terpaku melihat suatu benda yang aneh di hadapannya.

 “Atiam, ia adalah Dewa Keranjang. Ia yang akan memberi tahu obat apa yang dapat menyembuhkan engkau,”  jelas Ame pada Atiam.

 “Kamu harus berusaha memegang keranjang itu,” kata Ame.

Walaupun Atiam lumpuh, tetapi ia yakin pasti bisa memegang keranjang itu. Dengan sekuat tenaga Atiam berusaha menggerakkan tangannya untuk memegang keranjang itu. Namun, tangannya tidak bisa digerakkan. Tanpa putus ada ia terus berusaha menggerakkan. Namun, apa daya, kelumpuhan  memaksanya untuk tetap tidak bergerak. Ame bersembahyang pada Thien Akung agar memberikan mukjizat pada Atiam.  Ame menancapkan dupa pada tanah dekat keranjang. Atiam kembali mencoba menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan tangannya mulai bergerak. Hanya tangannya yang bereaksi. Anggota badan lain tidak. Perlahan ia mampu memegang keranjang itu.

Atiam dan Achau memegang keranjang itu, Ame menancapkan dupa kedua kalinya dan membacakan mantra berulang-ulang, tapi masih belum ada reaksi apa pun. Keranjang itu tetap diam tanpa ada gerakan sedikit pun.

“Tolong, datanglah Dewa Keranjang, untuk menyembuhkan anakku. Saya berjanji saya dan anak cucu saya akan mengundang Engkau lagi jika Engkau menyembuhkan anak saya.” Ame membacakan mantra yang sama berulang kali yang tak dimengerti oleh kedua anaknya. Angin berhembus dengan kencang secara tiba-tiba setelah Ame membacakan mantra tersebut sebanyak 3 kali. Ame kembali membaca mantra itu dengan semangat yang berapi-api, dan keranjang itu menjadi sangatlah berat. “Me, berat sekali!” kata Achau. Dentingan-dentingan kunci mulai terdengar. Semakin lama, semakin kencang. Keranjang itu telah bereaksi dan mengangguk-ngangguk.

Ame langsung berkata, “Dewa, boleh saya bertanya sesuatu?” Dewa Keranjang pun mengangguk yang berarti ‘iya’.

“Dewa, apakah Engkau tahu obat apa yang dapat menyembuhkan Atiam?” tanya Ame. Sang Dewa mengangguk, lalu ia menulis beberapa kata di sebuah kertas. Awalnya tulisan itu terlihat sangat sulit untuk dibaca, tapi lama kelamaan tulisan itu membentuk beberapa patah kata. Nun Jai Sui[5] dan Jarak. Itu lah bahan-bahannya yang akan dibuat menjadi minuman.

“Apakah masih ada yang lain, Dewa?” tanya Ame. Sang Dewa pun mendongak ke belakang yang berarti ‘tidak’.

“Terima kasih, Dewa. Saya akan menepati janji saya yang tadi saya katakan pada engkau,” kata Ame. Keranjang itu pun berhenti bergerak.



Keesokan harinya, Ame mencari buah jarak dan air kelapa muda, lalu dibuatkannya menjadi jamu. Ame memberi minuman itu kepada Atiam. Dengan seketika Atiam dapat berdiri dan bergerak. “Sungguh aku berterima kasih, Thien Akung, karena Kau telah mengirimkan Dewa Keranjang pada kami.

Ritual memanggil Dewa Keranjang pun menjadi sangat terkenal saat itu terutama di kalangan masyarakat Tionghoa di Parittiga dan Jebus, Bangka Barat. Ritual ini dikenal sebagai Cai Lam Sin yang berarti Dewa Keranjang oleh masyarakat Tionghoa Keturunan Hakka di Pulau Bangka.  Biasanya masyarakat Tionghoa akan melakukan ritual Cai Lam Sin saat chit ngiat[6] menjelang perayaan perjamuan setan kelaparan atau disebut Sembahyang Rebut  di Bangka Belitung. Awalnya, ritual ini digunakan dengan tujuan menanyakan obat untuk kesembuhan. Lama-kelamaan pergeseran makna dan tujuan dari ritual mulai terjadi. Banyak yang menyalahgunakannya untuk perjudian, dan lain-lain. Masyarakat Tionghoa Bangka percaya bahwa Cai Lam Sin itu adalah Dewa Cai Lam atau dikenal dengan nama Dewa Keranjang yang senang pada anak-anak kecil.

Kisah Achau dan Atiam yang memohon pertolongan Cai Lam Sim mengajarkan kekompakan keluarga dalam menyelesaikan suatu permasalahan.



[1] Ame: panggilan untuk Ibu dalam Dialek Hakka Bangka
[2] Thai Pak: Paranormal  Tionghoa di Bangka
[3] Thien Akung: Sebutan Tuhan dalam Bahasa Hakka Bangka
[4] Apa: Panggilan untuk Ayah oleh masyarakat Tionghoa Bangka
[5] Nun Jai Sui : Air kelapa muda.
[6] Chit ngiat:  Bulan 7 Imlek, masa di mana dipercayai oleh orang Tionghoa, pintu neraka jalur setan kelaparan dibuka lebar. Arwah-arwah dari neraka akan berkeliaran bebas di alam manusia.



Ditulis oleh Seftian Jerry

Misteri Wak Tebuk

“Jangan pergi ke hutan itu, nanti ada Wak Tebuk!” Peringatan ini tidak asing terdengar di tengah masyarakat Bangka Barat khususnya di Muntok. Begitulah cara orang tua menakuti anak-anaknya agar menuruti nasihat. Wak Tebuk konon digambarkan memiliki rupa yang menyeramkan dan suka menculik anak kecil. Ada yang mengatakan bahwa Wak Tebuk menculik lalu memenggal kepala anak kecil untuk di jadikan jembatan. Ada pula  yang mengatakan bahwa Wak Tebuk memangsa anak kecil dengan memakan jantung dan hatinya. Tak sedikit pula masyarakat yang menganggap Wak Tebuk hanya dibuat-buat untuk menakuti anak-anak. Walaupun banyak yang menyangkal keberadaannya, hingga saat ini banyak juga yang percaya kejadian hilangnya anak kecil berhubungan dengan aksi Wak Tebuk. Keyakinan tentang adanya Wak Tebuk dikarenakan banyaknya cerita orang yang pernah menjumpainya. Sejak dulu kala, sosok Wak Tebuk menjadi sosok yang misterius.
Pada jaman dahulu, di Muntok, Bangka Barat, tinggallah sebuah keluarga yang hidup sederhana. Dalam keluarga tersebut hanya ada ibu dan 2 orang putranya. Ayah mereka telah lama meninggal. Untuk menafkahi kedua orang anaknya , sang ibu bekerja sebagai penenun kain cual[1]. Walaupun hasilnya tidak seberapa, uangnya cukup untuk kehidupan keluarga mereka.
Kesederhanaan tidak mengurangi kebahagiaan keluarga ini. Kepatuhan 2 putranya membuat sang ibu tidak merasakan beban hidup. Apalagi kedua putranya dapat membantu sang ibu dalam mengurus rumah dan kehidupan sehari-hari. Putra sulung bernama Damar ,yang bungsu bernama Baiwara.
“Damar, coba kau ajak adikmu ke hutan untuk cari kayu bakar,” ujar sang ibu.
“Baik, Mak!” Damar langsung bergegas mempersiapkan peralatan untuk memotong kayu.
“Ingat lah, sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!”
“Baik, Mak!” tanpa membantah mereka pun langsung bergegas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Dengan berwajah tenang dan penuh senyum, sang ibu tampak sangat yakin dan tak risau kepada anaknya. Sesungguhnya kecemasan selalu mengisi ruang kosong hati sang ibu di setiap kepergian anak-anaknya. Ada sesuatu yang membuat dirinya takut. Tatkala dirundung kekhawatiran, sang ibu mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kedua putranya adalah anak yang patuh.
Sementara itu, Damar dan Baiwara dengan penuh semangat mencari kayu bakar. Rasa lelah pun tidak terasa karena mereka sudah terbiasa. Matahari pun sudah tampak di ufuk barat langit. Kicauan burung bersahutan sembari terbang kembali ke sarang. Tak terasa waktu sangat cepat berlalu, sekarang langit tampak berwarna kuning kemerah-merahan.
“Dik, langit sudah mulai gelap, cepat kita selesaikan pekerjaan kita dan pulang ke rumah! Nanti Emak khawatir pula sama kita.”
“Bang, aku punya usul!”
Suasana yang tenang dan damai dalam hati Damar karena sudah ingin pulang, sontak terpecahkan oleh semangat sang adik yang selalu bersikap kekanak-kanakan. Dengan penuh kebijaksanaan dan wajah tenangnya itu, Damar diam dan mendengarkan usul.
”Bagaimana kalau kita cari kayu bakar lebih banyak lagi. Biar pulang malam sedikit tidak apa-apa. Pasti nanti hasilnya kita akan lebih banyak dari pada biasanya. Ibu pasti senang!” usul Baiwara kepada kakaknya.
“Ingat kata Emak, Dik! Kita harus pulang sebelum langit mulai gelap. Selalu diulang-ulang, tidak boleh sampai langit gelap! Pantang sekali! Tidak mungkin kan Emak mengatakan sebuah pantangan tanpa alasan. Mungkin saja ada sesuatu yang berbahaya, walaupun Emak tidak pernah menjelaskan alasanya kepada kita.” jelas Damar seraya menyusun gundukan kayu-kayu kecil yang mereka kumpulkan.
“Ayolah, bang! Sekali-kali saja! Kan kita tidak berbuat salah?” rayu Baiwara sembari merengek-rengek.
Damar diam sejenak. Wajah Baiwara mulai ditekuk.
“Ehm…baiklah! Baiklah!Kita teruskan.”
“Hore!” sorak Baiwara. Wajahnya berubah menjadi girang. Bergegas mereka mengeluarkan parang,menebas ranting-ranting dan batang kayu kecil.
Matahari sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Berganti rembulan purnama menghiasi langit malam. Suara jangkrik malam sayup-sayup terdengar dari setiap sisi gelap hutan. Temaram sinar bulan cukup membantu mereka bekerja.
“Sepertinya kita cukupkan saja sampai di sini! Jika terlalu larut Emak bisa khawatir menunggu kita. Terlalu banyak kayu yang dibawa juga tidak mungkin sanggup kita bawa.” ujar Damar.
“Iya Bang, aku juga sudah lelah!” balas Baiwara setuju.
“Lihat, Bang! Tidak ada apa-apa kan kalau kita pulang agak malam! Sebenarnya tidak masalah kalau kita pulang malam-malam.”
“Wew, budak[2] neh! Memang tidak ada masalah apa-apa. Kalau sampai di rumah, Emak ngeroce[3], itulah baru kau tahu masalahnya!”
Baiwara cuma senyam-senyum diceramahi sang kakak. “Justru ibu harusnya senang, kita ini rajin, Bang!”
Damar tidak berkata apa-apa lagi. Bergegas mereka memanggul kayu-kayu kecil mereka yang sudah diikat dengan tali dari rotan.
***
Sesampainya di rumah, sang ibu sudah berdiri di depan pintu dengan perasaan gundah. Menunggu dengan muka asamnya. Belum sampai dua kakak adik itu masuk ke dalam pekarangan rumah, sang ibu sudah mulai ngeroce.
Kalian ini sudah mulai bisa membantah kata Emak ya! Emak sudah bilang kan sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang! Emak sudah khawatir menunggu kalian berdua ini! Kalian ditangkap Wak Tebuk baru tahu rasa!” sang Ibu memarahi kedua putra nya sambil mengangkat-angkat jari telunjuknya.
Damar dan Baiwara hanya tertunduk diam. Hening sesaat. Hanya terdengar deringan jangkrik malam bersahut-sahutan.
“Coba Emak lihat ini, hasil kami dari hutan mencari kayu bakar. Bahkan tidak terjadi apa-apa sama kami.” Baiwara memberanikan diri untuk mencela kesunyian.
“Kalian ini, sejak kapan kalian menjadi nakal seperti ini? Dengar! Kayu bakar itu tidak ada bandingannya dengan nyawa kalian.”
Wak Tebuk itu apakah ada, Mak! Kata temanku itu hanya bohong-bohongan orang dewasa saja!” Damar mulai ikut memberanikan diri menanggapi nasihat ibunya.
Sang ibu menarik napas dalam-dalam. Kali ini ia mulai melembutkan suaranya.
“Damar, Baiwara, kalian lah harta Emak yang paling berharga. Emak hanya punya kalian. Dengarkanlah perkataan orang tua kalian satu-satunya ini! Kalau kalian mulai suka membantah begini, nanti akan tahu terkena bala.”
Damar dan Baiwara tak berani bicara apa-apa lagi. Setelah bersama makan malam, mereka langsung pergi ke tempat tidur masing-masing. Malam itu, Damar dan Baiwara tak bias tertidur lelap. Keduanya memikirkan tentang Wak Tebuk. Walaupun sudah dinasihati, mereka masih belum percaya tentang adanya sosok misterius yang sudah menjadi buah bibir warga desa sejak lama.
Selisih paham ini pun berlalu terbawa waktu. Beberapa hari kemudian, Damar dan Baiwara seperti biasanya kembali ditugaskan untuk mengambil kayu bakar di hutan. Persedian kayu bakar di dapur mereka sudah mulai habis. Kegiatan mengambil kayu bakar menjadi aktivitas kesukaan mereka. Apalagi di sela-selanya, mereka bisa sambil memetik buah kemunting[4], atau menjerat burung puyuh.
Kali ini, setelah pamit, sang ibu tidak seperti biasa menitipkan nasihatnya. Sang ibu asyik berkonsentrasi menyelesaikan tenunan cual yang hampir jadi. Tiba-tiba saja kain tenunannya itu putus dan batang kayu yang digunakan untuk memisahkan celah-celah benang patah menjadi dua. Sesaat sang ibu termenung. Ia takut ini adalah adanya pertanda tidak baik. Lantas sang ibu segera mengabaikan firasatnya. Ia mencoba menghibur dirinya dengan sambil berdendang.
Sementara itu, Baiwara dan Damar menyusuri semak-semak belukar di tengah hutan sambil mencari kayu-kayu kering. Kucuran keringat yang mulai mengalir menandakan kelelahan mulai terasa. Mereka pun mencari tempat yang agak lapang untuk beristirahat sejenak.
Bang, nanti kita main sembunyichong[5], yuk! Sudah lama kita tidak main. Sepertinya seru main di sini.”
“Boleh juga, tempat ini cocok untuk kita bermain!”
Setelah membereskan kayu-kayu yang sudah terkumpul, mereka pun bermainsembunyihong. Begitu serunya bermain, mereka sampai lupa waktu. Senja pun mulai datang. Langit pun perlahan menjadi gelap. Mereka telah larut dalam tawa saling mencari dan bersembunyi.
Ketika itu Damar berjongkok, menundukkan kepala dan menutup matanya dengan kedua lengan.
Lahhhh lum? Lah lum?” Beberapa saat setelah menunggu dengan posisi berjongkoknya, Damar mulai beranjak siap mencari sang adik. Sambil berjingkat-jingkat, Damar menyusuri setiap sisi sekitar tempat mereka bermain. Sesekali ia dengan gerakan lambatnya melirik-lirik ke kanan, kiri dan belakangnya.
Setelah sekian lama tidak menemukan adiknya, Damar mulai resah. Kemana adiknya bersembunyi.
“Baiwara! Baiwara! Kemana kau?” teriak Damar berputar ke kanan dan ke kiri.
“Baiwara! Abang menyerah! Tak tahu kau sembunyi dimana?” teriakan Damar semakin keras.
Beberapa saat menunggu, tak ada balasan apa-apa. Tak ada bunyi teriakan “Hong[6]!” dari Baiwara. Bahkan bunyi langkah tapak kaki pun tidak sedikitpun terdengar.
“Baiwara, ayo lah! Sudah mulai gelap ini! Abang tak mau main lagi! Kita mau pulang!” kembali Damar berteriak.
“Baiwara! Keluarlah! Kalau tidak, Abang tinggal kau!” suara Damar semakin tegas. Tetapi sesaat kemudian, tidak ada balasan apa-apa ataupun tanda kedatangan sang adik. Damar mulai tampak semakin cemas.
“Aduh, kemana anak satu ini!” gumam Damar mulai kesal.  Ia mulai menyusuri semak-semak hutan semakin jauh lagi dari area mereka bermain.
“Baiwara! Ohhh Baiwara!” kecemasan Damar semakin menjadi-jadi. Kali ini kekesalannya berubah menjadi kecemasan yang amat sangat. Betapa tidak. Baiwara baru berusia 10 tahun. Adiknya sangat bergantung padanya. Kalau saja ditinggalkan, pasti Baiwara tidak tahu jalan pulang.
“Baiwara!” suara Damar agak serak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ketakutan bercampur segala dugaan yang tak karuan merasuk ke dalam batinnya. Damar mulai merasakan Baiwara tidaklah bersembunyi. Baiwara pasti sudah menghilang. Ia menyadari adiknya pasti dalam keadaan takut yang sama dengan dirinya. Bahkan adiknya pasti bisa lebih takut lagi.
Sreettt!” tiba-tiba terdengar seretan kaki di antara semak-semak ranting dan daun kering.
Damar menoleh ke arah sumber suara.
“Baiwara, itu kah kau?”
Sinar matahari yang sudah nyaris tak ada lagi, menyisakan bayang-bayang pohon dan tanaman semak. Damar tidak melihat adiknya. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada bayang hitam menyerupai sosok orang besar tinggi, berambut gondrong. Tangannya menggenggam sebuah benda berbentuk bulat menyerupai kepala manusia. Damar melongo sesaat, matanya terbelalak. Ia bergerak mundur. Dengan penuh ketakutan ia berlari menjauhi sosok banyangan itu.
Larinya kencang sekali sambil menangis ketakutan. Ia tidak memikirkan ranting-ranting kayu dan taman semak yang menyayat betisnya. Kali ini ia tidak berteriak memanggil nama adiknya.
“Emaaakkkk! Maaaaakkkkk! Tolong Makkkk!” teriak Damar sekencang-kencangnya. Takutnya Damar bukan kepalang.
***
Sementara, Sang ibu di depan pekarang rumah lagi-lagi menunggu dengan perasaan cemas. Ia mondar-mandir. Duduk. Berdiri. Duduk. Berdiri. Menanti kedua anaknya yang tak kunjung datang.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara teriakan bocah memanggilnya. “Mak!” Suara itu semakin terdengar jelas. Sang ibu bergegas berdiri, mengamati kegelapan malam di antara belantara semak belukar. Sosok bocah yang adalah anaknya sendiri tampak berlari terengah-engah.
“Ada apa Damar? Ini kan sudah malam, jangan teriak-teriak!” Ibu mulai panik melihat wajah ketakutan putra sulungnya itu.
“Makkk!” kata Damar dengan napas tersengal sambil menunjuk ke arah hutan. Tangan kirinya mengelus dada. Ia belum bisa memberi penjelasan. Sesaat masih mengatur napasnya.
Adik, Makkkk! Adik!” Damar setengah berteriak, setengah menangis, napasnya masih belum tenang.
“Ada apa, Damar? Ayo cepat katakan! Mana adikmu?”
“Adik hilang, Mak! “
Setelah menarik napas yang cukup panjang akhirnya Damar memberanikan dirinya untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi.
Tanpa ia sadari, dirinya jatuh tertelungkup tak berdaya dan air mata yang tak terbendung membasahi kedua pipinya yang sudah mulai mengkerut itu.
***
Kabar kehilangan Baiwara dengan sangat cepat menyebar kemana-mana dan menjadi buah bibir masyarakat. Kuat diduga Baiwara telah menjadi mangsa Wak Tebuk. Karena isu itu semua anak-anak di desa tidak berani keluar dari rumah, walaupun hanya untuk bermain. Mereka takut ditangkap Wak Tebuk. Sejak kisah ini beredar, anak-anak juga tabuh bermain sembunyi hong menjelang magrib dan malam hari.
Walaupun Wak Tebuk ini hanyalah sebuah mitos, sampai sekarang misteri keberadaanya masih terus beredar hingga saat ini. Bahkan terkadang kasus penculikan anak di suatu daerah, khususnya di Muntok, Bangka Barat selalu saja dikaitkan dengan Wak Tebuk. Orang tua selalu menggunakan sosok Wak Tebuk untuk membuat anak mereka menjadi penurut.
Sebagai mana pun sosok Wak Tebuk yang penuh misteri, kisah ini ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak dan remaja untuk menghormati nasihat orang tua. Geliat anak muda biasanya penuh dengan rasa penasaran dan selalu ingin mencari sesuatu yang menantang. Melalui kisah ini, hendak menyampaikan kepada generasi muda, walaupun kita diberi kebebasan beraktivitas dan berekspresi, jangan lah bertindak sembarangan apalagi melanggar norma-norma dalam masyarakat. Jika suka bertindak sembarangan, bukan tidak mungkin bahaya dan malapetaka ada di depan mata.




[1]Cual:kain tenunkhas Bangka
[2]Budak:sebutananakkecil di Bangka Barat
[3]Ngeroce:marah,bahasadaerah di beberapadaerah Bangka
[4]BuahKemunting:Buah yang rasanyamanisdanberbijikecilbanyak ditemukan di hutan semak belukar di Bangka Barat
[5]Sembunyi Hong: Semacampermainansepertipetakumpet di Bangka Barat
[6] Hong                :  Ucapan yang dikatakanpemain yang berhasillolosdaripenjagaan,saatbermainpetakumpet


Dikarang oleh Wendy Montela