Pada
zaman dahulu, hiduplah seorang janda
yang sedang hamil besar. Ia tinggal di di kampung pecinan Tionghoa, Desa Jebu
Laut, Parittiga, Bangka Barat. Kehidupannya yang miskin membuatnya tidak dapat
pergi ke dukun beranak karena tidak punya uang atau pun benda yang dapat
diberikan kepada dukun itu sehingga ia harus melahirkan anaknya sendiri. Dengan
susah payah ia mengerang, melahirkan anaknya. Beberapa menit kemudian,
terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. Kebahagiaan meliputi janda
itu, tak disangka ia melahirkan dua anak kembar berkelamin laki-laki. Anehnya,
hanya ada satu anak yang menangis dan satu lagi tidak. Janda itu memberi nama
anaknya Achau dan Atiam. Chau yang
berarti berisik dan Tiam berarti diam, sesuai dengan perawakan mereka masing-masing.
Walaupun
seorang janda, ia bisa menghidupi kedua anaknya sampai remaja. Suatu hari, sang
Janda menyuruh anaknya untuk mencari kayu bakar dan hewan di hutan untuk mereka
santap saat makan malam. Sesampainya di hutan, mereka membagi tugas. Achau membunuh
hewan, sedangkan Atiam mencari kayu bakar dan buah-buahan. Lalu, mereka
berpisah di hutan.
Achau melihat seekor kancil, ia segera
mengarahkan anak panahnya, tetapi kancil itu sudah sadar bahwa ia akan diburu.
Kancil itu langsung melesat melarikan diri ke tengah hutan yang rimbun. Achau terus
mengejar dan mengejar kancil tersebut sampai akhirnya ia masuk ke dalam bagian
hutan yang asing baginya. Ia pun tersesat di hutan. Terdengar teriakan
seseorang meminta tolong yang berasal dari dalam hutan.
“Tolong...
tolong...!” teriak orang itu.
Atiam pun melihat ke arah suara itu berasal,
ia segera berlari menuju tempat suara itu datang. Sesampainya di posisi sumber
suara itu, ia terkejut melihat Achau yang sedang ketakutan karena di hadapannya
ada seekor ular putih yang siap memangsanya. Dengan cepat Atiam memukul ular
itu dengan kayu bakar yang dibawanya.
“Terima kasih, Atiam!” kata Achau ketakutan.
“Sama-sama.
Kita kan saudara, jadi jika kau berada dalam masalah, aku akan menolongmu,”
jawab Atiam.
Mereka pun kembali ke rumah bersama. Ibunya sudah khawatir karena
hari sudah hampir gelap, tetapi anaknya belum pulang juga.
“Ame[1]!!!”
teriak Atiam dan Achau dari kejauhan.
“Maaf, Me.
Atiam tidak bisa mencarikan hewan untuk kita santap,” kata Atiam.
“Ame,
tadi Achau hampir digigit ular, untunglah Atiam datang menolongku,” kata Achau.
“Tidak
apa-apa Achau, yang penting kamu selamat.” Sang ibu memberikan senyum untuk
menenangkan suasana.
Akhirnya, mereka hanya memakan buah-buahan
yang dibawa oleh Atiam.
Malam
harinya, angin berhembus kencang, sehingga jendela kamar Atiam dan Achau terbuka.
Terdengarlah suara seorang wanita yang menangis, Atiam dan Achau pun terbangun.
Mereka melihat ke luar jendela, terlihat seorang wanita yang sedang menangis di
bawah pohon di samping rumah mereka. Mereka segera keluar dari rumah dan
mendatanginya.
“Mengapa
kau menangis?” tanya Achau pada wanita itu.
“Aku dipukul oleh seorang laki-laki,” jawab
wanita itu.
“Siapa
yang memukul engkau?” tanya Atiam.
“Kau!
Kau yang telah memukulku! Kau harus mati!” gertak wanita itu.
Achau dan Atiam terdiam bingung.
“Hah!
Itu tak mungkin! Kami tak mengenal siapa engkau!” seru Atiam.
Seketika
wanita itu berubah menjadi seekor ular putih. “Kau! Kau harus mati!!” teriak
siluman itu. Sang siluman menggigit kaki Atiam, dan bisanya itu seketika
membuat Atiam terjatuh tak sadarkan diri. Ular itu segera pergi masuk ke dalam
hutan.
“Atiam... Atiam bangun,” teriak Achau. Ia menggendong Atiam masuk ke dalam rumah . Ia
segera memanggil Ame.
“Ame...,
Me..., Atiam pingsan!”
Dengan segera Ame keluar dari kamar.
“Kenapa dia?” tanya Ame khawatir.
“Dia
digigit ular siluman,” jawab Achau. Kaki dan tangan Atiam tidak bisa
digerakkan. Perlahan-lahan bisa itu menyebar ke seluruh tubuhnya dan membuat
mulutnya tak bisa digerakkan.
Pada
malam harinya, Ame mendapatkan mimpi
dari siluman ular putih itu dan ia berkata, “Anakmu tak akan mati, ia hanya
akan lumpuh.”
Keesokan
harinya Ame menceritakan semua
mimpinya pada Achau. Ame memutuskan
bahwa ia harus membawa Atiam ke tabib, tetapi tabib tak bisa menyembuhkan Atiam.
Tanpa putus asa, Ame membawa ia ke
berbagai macam dukun, thai pak[2],
dan yang lainnya. Tapi, tak ada yang bisa menyembuhkan Atiam. Ame telah mencoba memberikan Atiam
obat-obatan herbal, tapi kelumpuhan itu tak bisa disembuhkan. Ame menyerah, ia memohon pada Thien Akung [3]agar
dapat menyembuhkan anaknya.
Beberapa
hari kemudian, di pagi hari Ame bercerita
dengan Achau.
“Achau,
semalam Ame mendapatkan mimpi dari
ayahmu.”
“Apa
yang Apa [4]katakan?”
Tanya Achau .
“Ayahmu mengatakan, Atiam tak akan mati. Kau
harus mengundang Dewa Keranjang , Ia tahu apa obat untuk menyembuhkan Atiam.” Kata Ame.
“Bagaimana cara mengundang sang dewa ?” tanya
Achau penasaran.
“Dengan
cara membuat sebuah keranjang yang digantung banyak kunci, dipakaikan baju
serta diikatkan arang sebagai alat tulis. Dan harus dimainkan oleh 2 orang
remaja dan diucapkan mantra-mantra pemanggil arwah untuk menggerakkannya.
Ketika keranjang telah bergerak
sendiri, harus disiapkan kertas sebagai wadah yang akan ditulis. Kita bisa
bertanya apa saja padanya,” jelas Ame.
“Oh
iya, kita harus memainkannya pada saat malam bulan pernama pada bulan ke
delapan penanggalan Tionghoa,” tambah
Ame.
“Kapan
itu bulan purnama?” tanya Achau ingin
tahu.
“Malam
ini tepatnya,” jawab Ame.
“Ayo
cepat kita buat dewa keranjang itu!” kata Achau.
Mendengar
hal itu, Ame segera mencari bambu
untuk dibuatkan keranjang. Ia menuju hutan untuk mengambil bilah-bilah bambu.
Sepulangnya dari hutan, ia langsung mulai menganyam bambu menjadi keranjang.
Achau mencari arang untuk menjadi alat tulis sang dewa.
Semua
barang-barang yang mereka perlukan sudah ada. Segalanya telah siap. Keranjang
yang sudah diberi ranting sebagai tangan, dipakaikan baju dan diikatkan arang.
Bagian tangannya digantung berbagai macam kunci. Malam pun tiba, cahaya bulan
purnama bersinar dengan terang. Disiapkan berbagai macam buah dari hutan dan
air putih sebagai sesajen. Dan dinyalakanlah dupa sebagai tanda pengundangan Dewa
Keranjang. “Tetapi, hanya satu orang remaja yang memegang keranjang itu,” kata Ame.
“Bagaimana
kalau kita ajak Atiam?” tanya Achau kepada
Ame.
“Kamu gendong Atiam ke sini!”
“Baik,
Me,” jawab Achau.
Atiam
pun didudukkan di atas tanah. Ia hanya terpaku melihat suatu benda yang aneh di
hadapannya.
“Atiam, ia adalah Dewa Keranjang. Ia yang akan
memberi tahu obat apa yang dapat menyembuhkan engkau,” jelas
Ame pada Atiam.
“Kamu harus berusaha memegang keranjang itu,”
kata Ame.
Walaupun
Atiam lumpuh, tetapi ia yakin pasti bisa memegang keranjang itu. Dengan sekuat tenaga Atiam berusaha menggerakkan tangannya
untuk memegang keranjang itu. Namun, tangannya tidak bisa digerakkan. Tanpa
putus ada ia terus berusaha menggerakkan. Namun, apa daya, kelumpuhan memaksanya untuk tetap tidak bergerak. Ame bersembahyang pada Thien Akung agar memberikan mukjizat
pada Atiam. Ame menancapkan dupa pada tanah dekat keranjang.
Atiam kembali mencoba menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan tangannya mulai
bergerak. Hanya tangannya yang bereaksi. Anggota badan lain tidak. Perlahan ia
mampu memegang keranjang itu.
Atiam
dan Achau memegang keranjang itu, Ame menancapkan
dupa kedua kalinya dan membacakan mantra berulang-ulang, tapi masih belum ada
reaksi apa pun. Keranjang itu tetap
diam tanpa ada gerakan sedikit pun.
“Tolong,
datanglah Dewa Keranjang, untuk
menyembuhkan anakku. Saya berjanji saya dan anak cucu saya akan mengundang
Engkau lagi jika Engkau menyembuhkan anak saya.” Ame membacakan mantra yang sama berulang kali yang tak dimengerti
oleh kedua anaknya. Angin berhembus dengan kencang secara tiba-tiba setelah Ame membacakan mantra tersebut sebanyak
3 kali. Ame kembali membaca mantra
itu dengan semangat yang berapi-api, dan keranjang itu menjadi sangatlah berat. “Me,
berat sekali!” kata Achau. Dentingan-dentingan kunci mulai terdengar. Semakin
lama, semakin kencang. Keranjang itu telah bereaksi dan mengangguk-ngangguk.
Ame
langsung berkata, “Dewa, boleh saya bertanya sesuatu?” Dewa Keranjang pun
mengangguk yang berarti ‘iya’.
“Dewa,
apakah Engkau tahu obat apa yang dapat menyembuhkan Atiam?” tanya Ame. Sang Dewa mengangguk, lalu ia
menulis beberapa kata di sebuah kertas. Awalnya tulisan itu terlihat sangat
sulit untuk dibaca, tapi lama kelamaan tulisan itu membentuk beberapa patah
kata. Nun Jai Sui[5]
dan Jarak. Itu lah bahan-bahannya yang akan dibuat menjadi minuman.
“Apakah
masih ada yang lain, Dewa?” tanya Ame.
Sang Dewa pun mendongak ke belakang
yang berarti ‘tidak’.
“Terima
kasih, Dewa. Saya akan menepati janji
saya yang tadi saya katakan pada engkau,” kata Ame. Keranjang itu pun berhenti bergerak.
Keesokan
harinya, Ame mencari buah jarak dan
air kelapa muda, lalu dibuatkannya menjadi jamu. Ame memberi minuman itu kepada Atiam. Dengan seketika Atiam dapat
berdiri dan bergerak. “Sungguh aku berterima kasih, Thien Akung, karena Kau telah mengirimkan Dewa Keranjang pada kami.
Ritual
memanggil Dewa Keranjang pun menjadi sangat terkenal saat itu terutama di
kalangan masyarakat Tionghoa di Parittiga dan Jebus, Bangka Barat. Ritual ini
dikenal sebagai Cai Lam Sin yang
berarti Dewa Keranjang oleh masyarakat Tionghoa Keturunan Hakka di Pulau Bangka. Biasanya
masyarakat Tionghoa akan melakukan ritual Cai Lam Sin saat chit ngiat[6]
menjelang perayaan perjamuan setan kelaparan atau disebut Sembahyang Rebut di Bangka Belitung. Awalnya, ritual ini
digunakan dengan tujuan menanyakan obat untuk kesembuhan. Lama-kelamaan
pergeseran makna dan tujuan dari ritual mulai terjadi. Banyak yang
menyalahgunakannya untuk perjudian, dan lain-lain. Masyarakat Tionghoa Bangka
percaya bahwa Cai Lam Sin itu adalah
Dewa Cai Lam atau dikenal dengan nama
Dewa Keranjang yang senang pada anak-anak kecil.
Kisah
Achau dan Atiam yang memohon pertolongan Cai Lam Sim mengajarkan kekompakan
keluarga dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
[1] Ame:
panggilan untuk Ibu dalam Dialek Hakka Bangka
[2] Thai
Pak: Paranormal Tionghoa di Bangka
[3] Thien Akung: Sebutan Tuhan dalam Bahasa Hakka
Bangka
[4] Apa: Panggilan untuk Ayah oleh
masyarakat Tionghoa Bangka
[5] Nun Jai Sui : Air kelapa muda.
[6] Chit ngiat: Bulan 7 Imlek, masa di mana dipercayai oleh
orang Tionghoa, pintu neraka jalur setan kelaparan dibuka lebar. Arwah-arwah
dari neraka akan berkeliaran bebas di alam manusia.
Ditulis oleh Seftian Jerry

Tidak ada komentar:
Posting Komentar