Minggu, 05 Februari 2017

Misteri Wak Tebuk

“Jangan pergi ke hutan itu, nanti ada Wak Tebuk!” Peringatan ini tidak asing terdengar di tengah masyarakat Bangka Barat khususnya di Muntok. Begitulah cara orang tua menakuti anak-anaknya agar menuruti nasihat. Wak Tebuk konon digambarkan memiliki rupa yang menyeramkan dan suka menculik anak kecil. Ada yang mengatakan bahwa Wak Tebuk menculik lalu memenggal kepala anak kecil untuk di jadikan jembatan. Ada pula  yang mengatakan bahwa Wak Tebuk memangsa anak kecil dengan memakan jantung dan hatinya. Tak sedikit pula masyarakat yang menganggap Wak Tebuk hanya dibuat-buat untuk menakuti anak-anak. Walaupun banyak yang menyangkal keberadaannya, hingga saat ini banyak juga yang percaya kejadian hilangnya anak kecil berhubungan dengan aksi Wak Tebuk. Keyakinan tentang adanya Wak Tebuk dikarenakan banyaknya cerita orang yang pernah menjumpainya. Sejak dulu kala, sosok Wak Tebuk menjadi sosok yang misterius.
Pada jaman dahulu, di Muntok, Bangka Barat, tinggallah sebuah keluarga yang hidup sederhana. Dalam keluarga tersebut hanya ada ibu dan 2 orang putranya. Ayah mereka telah lama meninggal. Untuk menafkahi kedua orang anaknya , sang ibu bekerja sebagai penenun kain cual[1]. Walaupun hasilnya tidak seberapa, uangnya cukup untuk kehidupan keluarga mereka.
Kesederhanaan tidak mengurangi kebahagiaan keluarga ini. Kepatuhan 2 putranya membuat sang ibu tidak merasakan beban hidup. Apalagi kedua putranya dapat membantu sang ibu dalam mengurus rumah dan kehidupan sehari-hari. Putra sulung bernama Damar ,yang bungsu bernama Baiwara.
“Damar, coba kau ajak adikmu ke hutan untuk cari kayu bakar,” ujar sang ibu.
“Baik, Mak!” Damar langsung bergegas mempersiapkan peralatan untuk memotong kayu.
“Ingat lah, sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!”
“Baik, Mak!” tanpa membantah mereka pun langsung bergegas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Dengan berwajah tenang dan penuh senyum, sang ibu tampak sangat yakin dan tak risau kepada anaknya. Sesungguhnya kecemasan selalu mengisi ruang kosong hati sang ibu di setiap kepergian anak-anaknya. Ada sesuatu yang membuat dirinya takut. Tatkala dirundung kekhawatiran, sang ibu mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kedua putranya adalah anak yang patuh.
Sementara itu, Damar dan Baiwara dengan penuh semangat mencari kayu bakar. Rasa lelah pun tidak terasa karena mereka sudah terbiasa. Matahari pun sudah tampak di ufuk barat langit. Kicauan burung bersahutan sembari terbang kembali ke sarang. Tak terasa waktu sangat cepat berlalu, sekarang langit tampak berwarna kuning kemerah-merahan.
“Dik, langit sudah mulai gelap, cepat kita selesaikan pekerjaan kita dan pulang ke rumah! Nanti Emak khawatir pula sama kita.”
“Bang, aku punya usul!”
Suasana yang tenang dan damai dalam hati Damar karena sudah ingin pulang, sontak terpecahkan oleh semangat sang adik yang selalu bersikap kekanak-kanakan. Dengan penuh kebijaksanaan dan wajah tenangnya itu, Damar diam dan mendengarkan usul.
”Bagaimana kalau kita cari kayu bakar lebih banyak lagi. Biar pulang malam sedikit tidak apa-apa. Pasti nanti hasilnya kita akan lebih banyak dari pada biasanya. Ibu pasti senang!” usul Baiwara kepada kakaknya.
“Ingat kata Emak, Dik! Kita harus pulang sebelum langit mulai gelap. Selalu diulang-ulang, tidak boleh sampai langit gelap! Pantang sekali! Tidak mungkin kan Emak mengatakan sebuah pantangan tanpa alasan. Mungkin saja ada sesuatu yang berbahaya, walaupun Emak tidak pernah menjelaskan alasanya kepada kita.” jelas Damar seraya menyusun gundukan kayu-kayu kecil yang mereka kumpulkan.
“Ayolah, bang! Sekali-kali saja! Kan kita tidak berbuat salah?” rayu Baiwara sembari merengek-rengek.
Damar diam sejenak. Wajah Baiwara mulai ditekuk.
“Ehm…baiklah! Baiklah!Kita teruskan.”
“Hore!” sorak Baiwara. Wajahnya berubah menjadi girang. Bergegas mereka mengeluarkan parang,menebas ranting-ranting dan batang kayu kecil.
Matahari sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Berganti rembulan purnama menghiasi langit malam. Suara jangkrik malam sayup-sayup terdengar dari setiap sisi gelap hutan. Temaram sinar bulan cukup membantu mereka bekerja.
“Sepertinya kita cukupkan saja sampai di sini! Jika terlalu larut Emak bisa khawatir menunggu kita. Terlalu banyak kayu yang dibawa juga tidak mungkin sanggup kita bawa.” ujar Damar.
“Iya Bang, aku juga sudah lelah!” balas Baiwara setuju.
“Lihat, Bang! Tidak ada apa-apa kan kalau kita pulang agak malam! Sebenarnya tidak masalah kalau kita pulang malam-malam.”
“Wew, budak[2] neh! Memang tidak ada masalah apa-apa. Kalau sampai di rumah, Emak ngeroce[3], itulah baru kau tahu masalahnya!”
Baiwara cuma senyam-senyum diceramahi sang kakak. “Justru ibu harusnya senang, kita ini rajin, Bang!”
Damar tidak berkata apa-apa lagi. Bergegas mereka memanggul kayu-kayu kecil mereka yang sudah diikat dengan tali dari rotan.
***
Sesampainya di rumah, sang ibu sudah berdiri di depan pintu dengan perasaan gundah. Menunggu dengan muka asamnya. Belum sampai dua kakak adik itu masuk ke dalam pekarangan rumah, sang ibu sudah mulai ngeroce.
Kalian ini sudah mulai bisa membantah kata Emak ya! Emak sudah bilang kan sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang! Emak sudah khawatir menunggu kalian berdua ini! Kalian ditangkap Wak Tebuk baru tahu rasa!” sang Ibu memarahi kedua putra nya sambil mengangkat-angkat jari telunjuknya.
Damar dan Baiwara hanya tertunduk diam. Hening sesaat. Hanya terdengar deringan jangkrik malam bersahut-sahutan.
“Coba Emak lihat ini, hasil kami dari hutan mencari kayu bakar. Bahkan tidak terjadi apa-apa sama kami.” Baiwara memberanikan diri untuk mencela kesunyian.
“Kalian ini, sejak kapan kalian menjadi nakal seperti ini? Dengar! Kayu bakar itu tidak ada bandingannya dengan nyawa kalian.”
Wak Tebuk itu apakah ada, Mak! Kata temanku itu hanya bohong-bohongan orang dewasa saja!” Damar mulai ikut memberanikan diri menanggapi nasihat ibunya.
Sang ibu menarik napas dalam-dalam. Kali ini ia mulai melembutkan suaranya.
“Damar, Baiwara, kalian lah harta Emak yang paling berharga. Emak hanya punya kalian. Dengarkanlah perkataan orang tua kalian satu-satunya ini! Kalau kalian mulai suka membantah begini, nanti akan tahu terkena bala.”
Damar dan Baiwara tak berani bicara apa-apa lagi. Setelah bersama makan malam, mereka langsung pergi ke tempat tidur masing-masing. Malam itu, Damar dan Baiwara tak bias tertidur lelap. Keduanya memikirkan tentang Wak Tebuk. Walaupun sudah dinasihati, mereka masih belum percaya tentang adanya sosok misterius yang sudah menjadi buah bibir warga desa sejak lama.
Selisih paham ini pun berlalu terbawa waktu. Beberapa hari kemudian, Damar dan Baiwara seperti biasanya kembali ditugaskan untuk mengambil kayu bakar di hutan. Persedian kayu bakar di dapur mereka sudah mulai habis. Kegiatan mengambil kayu bakar menjadi aktivitas kesukaan mereka. Apalagi di sela-selanya, mereka bisa sambil memetik buah kemunting[4], atau menjerat burung puyuh.
Kali ini, setelah pamit, sang ibu tidak seperti biasa menitipkan nasihatnya. Sang ibu asyik berkonsentrasi menyelesaikan tenunan cual yang hampir jadi. Tiba-tiba saja kain tenunannya itu putus dan batang kayu yang digunakan untuk memisahkan celah-celah benang patah menjadi dua. Sesaat sang ibu termenung. Ia takut ini adalah adanya pertanda tidak baik. Lantas sang ibu segera mengabaikan firasatnya. Ia mencoba menghibur dirinya dengan sambil berdendang.
Sementara itu, Baiwara dan Damar menyusuri semak-semak belukar di tengah hutan sambil mencari kayu-kayu kering. Kucuran keringat yang mulai mengalir menandakan kelelahan mulai terasa. Mereka pun mencari tempat yang agak lapang untuk beristirahat sejenak.
Bang, nanti kita main sembunyichong[5], yuk! Sudah lama kita tidak main. Sepertinya seru main di sini.”
“Boleh juga, tempat ini cocok untuk kita bermain!”
Setelah membereskan kayu-kayu yang sudah terkumpul, mereka pun bermainsembunyihong. Begitu serunya bermain, mereka sampai lupa waktu. Senja pun mulai datang. Langit pun perlahan menjadi gelap. Mereka telah larut dalam tawa saling mencari dan bersembunyi.
Ketika itu Damar berjongkok, menundukkan kepala dan menutup matanya dengan kedua lengan.
Lahhhh lum? Lah lum?” Beberapa saat setelah menunggu dengan posisi berjongkoknya, Damar mulai beranjak siap mencari sang adik. Sambil berjingkat-jingkat, Damar menyusuri setiap sisi sekitar tempat mereka bermain. Sesekali ia dengan gerakan lambatnya melirik-lirik ke kanan, kiri dan belakangnya.
Setelah sekian lama tidak menemukan adiknya, Damar mulai resah. Kemana adiknya bersembunyi.
“Baiwara! Baiwara! Kemana kau?” teriak Damar berputar ke kanan dan ke kiri.
“Baiwara! Abang menyerah! Tak tahu kau sembunyi dimana?” teriakan Damar semakin keras.
Beberapa saat menunggu, tak ada balasan apa-apa. Tak ada bunyi teriakan “Hong[6]!” dari Baiwara. Bahkan bunyi langkah tapak kaki pun tidak sedikitpun terdengar.
“Baiwara, ayo lah! Sudah mulai gelap ini! Abang tak mau main lagi! Kita mau pulang!” kembali Damar berteriak.
“Baiwara! Keluarlah! Kalau tidak, Abang tinggal kau!” suara Damar semakin tegas. Tetapi sesaat kemudian, tidak ada balasan apa-apa ataupun tanda kedatangan sang adik. Damar mulai tampak semakin cemas.
“Aduh, kemana anak satu ini!” gumam Damar mulai kesal.  Ia mulai menyusuri semak-semak hutan semakin jauh lagi dari area mereka bermain.
“Baiwara! Ohhh Baiwara!” kecemasan Damar semakin menjadi-jadi. Kali ini kekesalannya berubah menjadi kecemasan yang amat sangat. Betapa tidak. Baiwara baru berusia 10 tahun. Adiknya sangat bergantung padanya. Kalau saja ditinggalkan, pasti Baiwara tidak tahu jalan pulang.
“Baiwara!” suara Damar agak serak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ketakutan bercampur segala dugaan yang tak karuan merasuk ke dalam batinnya. Damar mulai merasakan Baiwara tidaklah bersembunyi. Baiwara pasti sudah menghilang. Ia menyadari adiknya pasti dalam keadaan takut yang sama dengan dirinya. Bahkan adiknya pasti bisa lebih takut lagi.
Sreettt!” tiba-tiba terdengar seretan kaki di antara semak-semak ranting dan daun kering.
Damar menoleh ke arah sumber suara.
“Baiwara, itu kah kau?”
Sinar matahari yang sudah nyaris tak ada lagi, menyisakan bayang-bayang pohon dan tanaman semak. Damar tidak melihat adiknya. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada bayang hitam menyerupai sosok orang besar tinggi, berambut gondrong. Tangannya menggenggam sebuah benda berbentuk bulat menyerupai kepala manusia. Damar melongo sesaat, matanya terbelalak. Ia bergerak mundur. Dengan penuh ketakutan ia berlari menjauhi sosok banyangan itu.
Larinya kencang sekali sambil menangis ketakutan. Ia tidak memikirkan ranting-ranting kayu dan taman semak yang menyayat betisnya. Kali ini ia tidak berteriak memanggil nama adiknya.
“Emaaakkkk! Maaaaakkkkk! Tolong Makkkk!” teriak Damar sekencang-kencangnya. Takutnya Damar bukan kepalang.
***
Sementara, Sang ibu di depan pekarang rumah lagi-lagi menunggu dengan perasaan cemas. Ia mondar-mandir. Duduk. Berdiri. Duduk. Berdiri. Menanti kedua anaknya yang tak kunjung datang.
Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara teriakan bocah memanggilnya. “Mak!” Suara itu semakin terdengar jelas. Sang ibu bergegas berdiri, mengamati kegelapan malam di antara belantara semak belukar. Sosok bocah yang adalah anaknya sendiri tampak berlari terengah-engah.
“Ada apa Damar? Ini kan sudah malam, jangan teriak-teriak!” Ibu mulai panik melihat wajah ketakutan putra sulungnya itu.
“Makkk!” kata Damar dengan napas tersengal sambil menunjuk ke arah hutan. Tangan kirinya mengelus dada. Ia belum bisa memberi penjelasan. Sesaat masih mengatur napasnya.
Adik, Makkkk! Adik!” Damar setengah berteriak, setengah menangis, napasnya masih belum tenang.
“Ada apa, Damar? Ayo cepat katakan! Mana adikmu?”
“Adik hilang, Mak! “
Setelah menarik napas yang cukup panjang akhirnya Damar memberanikan dirinya untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi.
Tanpa ia sadari, dirinya jatuh tertelungkup tak berdaya dan air mata yang tak terbendung membasahi kedua pipinya yang sudah mulai mengkerut itu.
***
Kabar kehilangan Baiwara dengan sangat cepat menyebar kemana-mana dan menjadi buah bibir masyarakat. Kuat diduga Baiwara telah menjadi mangsa Wak Tebuk. Karena isu itu semua anak-anak di desa tidak berani keluar dari rumah, walaupun hanya untuk bermain. Mereka takut ditangkap Wak Tebuk. Sejak kisah ini beredar, anak-anak juga tabuh bermain sembunyi hong menjelang magrib dan malam hari.
Walaupun Wak Tebuk ini hanyalah sebuah mitos, sampai sekarang misteri keberadaanya masih terus beredar hingga saat ini. Bahkan terkadang kasus penculikan anak di suatu daerah, khususnya di Muntok, Bangka Barat selalu saja dikaitkan dengan Wak Tebuk. Orang tua selalu menggunakan sosok Wak Tebuk untuk membuat anak mereka menjadi penurut.
Sebagai mana pun sosok Wak Tebuk yang penuh misteri, kisah ini ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak dan remaja untuk menghormati nasihat orang tua. Geliat anak muda biasanya penuh dengan rasa penasaran dan selalu ingin mencari sesuatu yang menantang. Melalui kisah ini, hendak menyampaikan kepada generasi muda, walaupun kita diberi kebebasan beraktivitas dan berekspresi, jangan lah bertindak sembarangan apalagi melanggar norma-norma dalam masyarakat. Jika suka bertindak sembarangan, bukan tidak mungkin bahaya dan malapetaka ada di depan mata.




[1]Cual:kain tenunkhas Bangka
[2]Budak:sebutananakkecil di Bangka Barat
[3]Ngeroce:marah,bahasadaerah di beberapadaerah Bangka
[4]BuahKemunting:Buah yang rasanyamanisdanberbijikecilbanyak ditemukan di hutan semak belukar di Bangka Barat
[5]Sembunyi Hong: Semacampermainansepertipetakumpet di Bangka Barat
[6] Hong                :  Ucapan yang dikatakanpemain yang berhasillolosdaripenjagaan,saatbermainpetakumpet


Dikarang oleh Wendy Montela

Tidak ada komentar:

Posting Komentar