“Jangan pergi ke hutan itu, nanti ada Wak Tebuk!” Peringatan ini tidak asing terdengar
di tengah masyarakat Bangka Barat khususnya di Muntok. Begitulah cara orang tua menakuti anak-anaknya
agar menuruti nasihat. Wak Tebuk konon digambarkan memiliki rupa
yang menyeramkan dan suka menculik anak kecil. Ada yang mengatakan bahwa Wak Tebuk menculik lalu memenggal kepala anak kecil
untuk di jadikan jembatan. Ada
pula yang mengatakan bahwa Wak Tebuk memangsa anak kecil dengan memakan jantung dan hatinya.
Tak sedikit pula masyarakat yang menganggap
Wak Tebuk hanya dibuat-buat untuk menakuti anak-anak. Walaupun banyak yang
menyangkal keberadaannya, hingga saat ini banyak juga yang percaya kejadian
hilangnya anak kecil berhubungan dengan aksi Wak Tebuk. Keyakinan tentang
adanya Wak Tebuk dikarenakan banyaknya cerita orang yang pernah menjumpainya.
Sejak dulu kala, sosok Wak Tebuk menjadi sosok yang misterius.
Pada
jaman dahulu, di Muntok, Bangka Barat, tinggallah sebuah keluarga
yang hidup sederhana. Dalam keluarga tersebut hanya ada ibu dan
2 orang putranya. Ayah mereka telah lama meninggal.
Untuk menafkahi kedua orang anaknya , sang
ibu bekerja sebagai penenun kain cual[1]. Walaupun hasilnya tidak seberapa,
uangnya cukup untuk kehidupan keluarga mereka.
Kesederhanaan tidak mengurangi kebahagiaan keluarga ini. Kepatuhan 2 putranya membuat
sang ibu tidak merasakan beban hidup.
Apalagi kedua putranya dapat membantu
sang ibu dalam mengurus rumah dan kehidupan sehari-hari.
Putra sulung bernama Damar ,yang bungsu bernama Baiwara.
“Damar,
coba kau ajak adikmu ke hutan untuk cari kayu bakar,” ujar sang ibu.
“Baik,
Mak!” Damar langsung bergegas mempersiapkan peralatan untuk memotong kayu.
“Ingat lah,
sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!”
“Baik, Mak!” tanpa membantah mereka pun langsung bergegas pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
Dengan berwajah tenang dan penuh senyum, sang ibu tampak sangat yakin dan tak risau kepada anaknya.
Sesungguhnya kecemasan selalu mengisi ruang
kosong hati sang ibu di setiap kepergian anak-anaknya. Ada sesuatu yang membuat
dirinya takut. Tatkala dirundung kekhawatiran, sang ibu mencoba meyakinkan
dirinya sendiri bahwa kedua putranya adalah anak yang patuh.
Sementara
itu, Damar dan Baiwara dengan penuh semangat mencari kayu bakar. Rasa lelah pun
tidak terasa karena mereka sudah terbiasa. Matahari pun sudah tampak di ufuk barat
langit. Kicauan burung bersahutan sembari terbang kembali ke sarang. Tak terasa
waktu sangat cepat berlalu, sekarang langit tampak berwarna kuning kemerah-merahan.
“Dik, langit sudah mulai gelap, cepat kita selesaikan
pekerjaan kita dan pulang ke rumah! Nanti Emak khawatir pula sama kita.”
“Bang, aku punya usul!”
Suasana yang tenang dan damai dalam hati Damar karena sudah
ingin pulang, sontak terpecahkan oleh semangat sang adik yang selalu bersikap kekanak-kanakan.
Dengan penuh kebijaksanaan dan wajah tenangnya itu, Damar diam dan mendengarkan
usul.
”Bagaimana
kalau kita cari kayu bakar lebih banyak lagi. Biar pulang malam sedikit tidak
apa-apa. Pasti nanti hasilnya kita akan lebih banyak dari pada biasanya. Ibu pasti
senang!” usul Baiwara kepada kakaknya.
“Ingat kata
Emak, Dik! Kita harus pulang sebelum langit mulai gelap. Selalu diulang-ulang, tidak boleh sampai
langit gelap! Pantang sekali! Tidak mungkin kan Emak mengatakan sebuah
pantangan tanpa alasan. Mungkin saja ada sesuatu yang berbahaya, walaupun Emak
tidak pernah menjelaskan alasanya kepada kita.” jelas Damar seraya menyusun
gundukan kayu-kayu kecil yang mereka kumpulkan.
“Ayolah,
bang! Sekali-kali saja! Kan kita tidak berbuat salah?” rayu Baiwara sembari
merengek-rengek.
Damar
diam sejenak. Wajah Baiwara mulai ditekuk.
“Ehm…baiklah!
Baiklah!Kita teruskan.”
“Hore!”
sorak Baiwara. Wajahnya berubah menjadi girang. Bergegas mereka mengeluarkan
parang,menebas ranting-ranting dan batang kayu kecil.
Matahari
sudah tidak menampakkan dirinya lagi. Berganti rembulan purnama menghiasi
langit malam. Suara jangkrik malam sayup-sayup terdengar dari setiap sisi gelap
hutan. Temaram sinar bulan cukup membantu mereka bekerja.
“Sepertinya
kita cukupkan saja sampai di sini! Jika terlalu larut Emak bisa khawatir
menunggu kita. Terlalu banyak kayu yang dibawa juga tidak mungkin sanggup kita
bawa.” ujar Damar.
“Iya
Bang, aku juga sudah lelah!” balas Baiwara setuju.
“Lihat,
Bang! Tidak ada apa-apa kan kalau kita pulang agak malam! Sebenarnya tidak
masalah kalau kita pulang malam-malam.”
“Wew,
budak[2] neh! Memang tidak ada
masalah apa-apa. Kalau sampai di rumah, Emak ngeroce[3],
itulah baru kau tahu masalahnya!”
Baiwara
cuma senyam-senyum diceramahi sang kakak. “Justru ibu harusnya senang, kita ini
rajin, Bang!”
Damar
tidak berkata apa-apa lagi. Bergegas mereka memanggul kayu-kayu kecil mereka
yang sudah diikat dengan tali dari rotan.
***
Sesampainya
di rumah, sang ibu sudah berdiri di depan pintu dengan perasaan gundah.
Menunggu dengan muka asamnya. Belum sampai dua kakak adik itu masuk ke dalam
pekarangan rumah, sang ibu sudah mulai ngeroce.
“Kalian ini sudah mulai bisa membantah kata
Emak ya! Emak sudah bilang kan sebelum langit gelap, kalian sudah harus pulang!
Emak sudah khawatir menunggu kalian berdua ini! Kalian ditangkap Wak Tebuk baru
tahu rasa!” sang Ibu memarahi kedua putra nya sambil mengangkat-angkat jari
telunjuknya.
Damar
dan Baiwara hanya tertunduk diam. Hening sesaat. Hanya terdengar deringan
jangkrik malam bersahut-sahutan.
“Coba
Emak lihat ini, hasil kami dari hutan mencari kayu bakar. Bahkan tidak terjadi apa-apa
sama kami.” Baiwara memberanikan diri untuk mencela kesunyian.
“Kalian
ini, sejak kapan kalian menjadi nakal seperti ini?
Dengar! Kayu bakar itu tidak ada bandingannya dengan nyawa
kalian.”
“Wak Tebuk itu apakah ada, Mak! Kata temanku
itu hanya bohong-bohongan orang dewasa saja!” Damar mulai ikut memberanikan
diri menanggapi nasihat ibunya.
Sang
ibu menarik napas dalam-dalam. Kali ini ia mulai melembutkan suaranya.
“Damar,
Baiwara, kalian lah harta Emak yang paling berharga. Emak hanya punya kalian.
Dengarkanlah perkataan orang tua kalian satu-satunya ini! Kalau kalian mulai
suka membantah begini, nanti akan tahu terkena bala.”
Damar
dan Baiwara tak berani bicara apa-apa lagi. Setelah bersama makan malam, mereka
langsung pergi ke tempat tidur masing-masing.
Malam itu, Damar dan Baiwara tak bias tertidur lelap. Keduanya memikirkan tentang
Wak Tebuk. Walaupun sudah dinasihati, mereka masih belum percaya tentang adanya
sosok misterius yang sudah menjadi buah bibir warga desa sejak lama.
Selisih
paham ini pun berlalu terbawa waktu. Beberapa hari kemudian, Damar dan Baiwara
seperti biasanya kembali ditugaskan untuk mengambil kayu bakar di hutan.
Persedian kayu bakar di dapur mereka sudah mulai habis. Kegiatan mengambil kayu
bakar menjadi aktivitas kesukaan mereka. Apalagi di sela-selanya, mereka bisa
sambil memetik buah kemunting[4], atau menjerat burung puyuh.
Kali
ini, setelah pamit, sang ibu tidak seperti biasa menitipkan nasihatnya. Sang
ibu asyik berkonsentrasi menyelesaikan tenunan cual yang hampir jadi. Tiba-tiba saja kain tenunannya itu putus dan
batang kayu yang digunakan untuk memisahkan celah-celah benang patah menjadi
dua. Sesaat sang ibu termenung. Ia takut ini adalah adanya pertanda tidak baik.
Lantas sang ibu segera mengabaikan firasatnya. Ia mencoba menghibur dirinya
dengan sambil berdendang.
Sementara
itu, Baiwara dan Damar menyusuri semak-semak belukar di tengah hutan sambil
mencari kayu-kayu kering. Kucuran keringat yang mulai mengalir menandakan
kelelahan mulai terasa. Mereka pun mencari tempat yang agak lapang untuk
beristirahat sejenak.
“Bang, nanti kita main sembunyichong[5], yuk! Sudah lama kita tidak main. Sepertinya
seru main di sini.”
“Boleh
juga, tempat ini cocok untuk kita bermain!”
Setelah
membereskan kayu-kayu yang sudah terkumpul, mereka pun bermainsembunyihong. Begitu serunya bermain, mereka sampai lupa
waktu. Senja pun mulai datang. Langit pun perlahan menjadi gelap. Mereka telah
larut dalam tawa saling mencari dan bersembunyi.
Ketika
itu Damar berjongkok, menundukkan kepala dan menutup matanya dengan kedua
lengan.
“Lahhhh lum? Lah lum?” Beberapa saat setelah menunggu dengan posisi
berjongkoknya, Damar mulai beranjak siap mencari sang adik. Sambil
berjingkat-jingkat, Damar menyusuri setiap sisi sekitar tempat mereka bermain.
Sesekali ia dengan gerakan lambatnya melirik-lirik ke kanan, kiri dan
belakangnya.
Setelah
sekian lama tidak menemukan adiknya, Damar mulai resah. Kemana adiknya
bersembunyi.
“Baiwara!
Baiwara! Kemana kau?” teriak Damar berputar ke kanan dan ke kiri.
“Baiwara!
Abang menyerah! Tak tahu kau sembunyi dimana?” teriakan Damar
semakin keras.
Beberapa
saat menunggu, tak ada balasan apa-apa. Tak ada bunyi teriakan “Hong[6]!” dari Baiwara. Bahkan
bunyi langkah tapak kaki pun tidak sedikitpun terdengar.
“Baiwara,
ayo lah! Sudah mulai gelap ini! Abang tak mau main lagi! Kita mau pulang!”
kembali Damar berteriak.
“Baiwara!
Keluarlah! Kalau tidak, Abang tinggal kau!” suara Damar semakin
tegas. Tetapi sesaat kemudian, tidak ada balasan apa-apa ataupun tanda
kedatangan sang adik. Damar mulai tampak semakin cemas.
“Aduh,
kemana anak satu ini!” gumam Damar mulai kesal.
Ia mulai menyusuri semak-semak hutan semakin jauh lagi dari area mereka
bermain.
“Baiwara!
Ohhh Baiwara!” kecemasan Damar semakin menjadi-jadi. Kali ini
kekesalannya berubah menjadi kecemasan yang amat sangat. Betapa tidak. Baiwara
baru berusia 10 tahun. Adiknya sangat bergantung padanya. Kalau saja
ditinggalkan, pasti Baiwara tidak tahu jalan pulang.
“Baiwara!”
suara Damar agak serak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ketakutan bercampur segala
dugaan yang tak karuan merasuk ke dalam batinnya. Damar mulai merasakan Baiwara
tidaklah bersembunyi. Baiwara pasti sudah menghilang. Ia menyadari adiknya
pasti dalam keadaan takut yang sama dengan dirinya. Bahkan adiknya pasti bisa
lebih takut lagi.
“Sreettt!” tiba-tiba terdengar seretan
kaki di antara semak-semak ranting dan daun kering.
Damar
menoleh ke arah sumber suara.
“Baiwara,
itu kah kau?”
Sinar
matahari yang sudah nyaris tak ada lagi, menyisakan bayang-bayang pohon dan
tanaman semak. Damar tidak melihat adiknya. Tiba-tiba tatapannya tertuju pada
bayang hitam menyerupai sosok orang besar tinggi, berambut gondrong. Tangannya
menggenggam sebuah benda berbentuk bulat menyerupai kepala manusia. Damar
melongo sesaat, matanya terbelalak. Ia bergerak mundur. Dengan penuh ketakutan
ia berlari menjauhi sosok banyangan itu.
Larinya
kencang sekali sambil menangis ketakutan. Ia tidak memikirkan ranting-ranting
kayu dan taman semak yang menyayat betisnya. Kali ini ia tidak berteriak
memanggil nama adiknya.
“Emaaakkkk!
Maaaaakkkkk! Tolong Makkkk!” teriak Damar sekencang-kencangnya. Takutnya Damar
bukan kepalang.
***
Sementara,
Sang ibu di depan pekarang rumah lagi-lagi menunggu dengan perasaan cemas. Ia
mondar-mandir. Duduk. Berdiri. Duduk. Berdiri. Menanti kedua anaknya yang tak
kunjung datang.
Sayup-sayup
dari kejauhan terdengar suara teriakan bocah memanggilnya. “Mak!” Suara itu
semakin terdengar jelas. Sang ibu bergegas berdiri, mengamati kegelapan malam
di antara belantara semak belukar. Sosok bocah yang adalah anaknya sendiri tampak
berlari terengah-engah.
“Ada
apa Damar? Ini kan sudah malam, jangan teriak-teriak!” Ibu mulai panik
melihat wajah ketakutan putra sulungnya itu.
“Makkk!” kata Damar dengan napas tersengal sambil menunjuk
ke arah hutan. Tangan kirinya mengelus dada. Ia belum bisa memberi penjelasan.
Sesaat masih mengatur napasnya.
“Adik, Makkkk! Adik!” Damar setengah berteriak, setengah menangis, napasnya masih belum tenang.
“Ada apa, Damar? Ayo cepat katakan! Mana adikmu?”
“Adik hilang, Mak! “
Setelah menarik napas yang cukup panjang akhirnya Damar memberanikan dirinya untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi.
Tanpa ia sadari, dirinya jatuh tertelungkup tak berdaya
dan air mata yang tak terbendung membasahi kedua pipinya yang sudah mulai mengkerut
itu.
***
Kabar
kehilangan Baiwara dengan sangat cepat menyebar kemana-mana dan menjadi buah bibir
masyarakat. Kuat diduga Baiwara telah menjadi mangsa Wak Tebuk. Karena isu itu
semua anak-anak di desa tidak berani keluar dari rumah, walaupun hanya untuk
bermain. Mereka takut ditangkap Wak Tebuk. Sejak kisah ini beredar, anak-anak juga
tabuh bermain sembunyi hong menjelang
magrib dan malam hari.
Walaupun
Wak Tebuk ini hanyalah sebuah mitos, sampai sekarang misteri keberadaanya masih
terus beredar hingga saat ini. Bahkan terkadang kasus penculikan anak di suatu daerah,
khususnya di Muntok, Bangka Barat selalu saja dikaitkan dengan Wak Tebuk. Orang
tua selalu menggunakan sosok Wak Tebuk untuk membuat anak mereka menjadi penurut.
Sebagai
mana pun sosok Wak Tebuk yang penuh misteri, kisah ini ingin menyampaikan pesan
kepada anak-anak dan remaja untuk menghormati nasihat orang tua. Geliat anak
muda biasanya penuh dengan rasa penasaran dan selalu ingin mencari sesuatu yang
menantang. Melalui kisah ini, hendak menyampaikan kepada generasi muda,
walaupun kita diberi kebebasan beraktivitas dan berekspresi, jangan lah
bertindak sembarangan apalagi melanggar norma-norma dalam masyarakat. Jika suka
bertindak sembarangan, bukan tidak mungkin bahaya dan malapetaka ada di depan
mata.
[2]Budak:sebutananakkecil di Bangka Barat
[3]Ngeroce:marah,bahasadaerah di beberapadaerah Bangka
[4]BuahKemunting:Buah yang rasanyamanisdanberbijikecilbanyak ditemukan di hutan semak belukar di Bangka Barat
[6] Hong : Ucapan yang dikatakanpemain yang
berhasillolosdaripenjagaan,saatbermainpetakumpet
Dikarang oleh Wendy Montela

Tidak ada komentar:
Posting Komentar