Alkisah
di pesisir pantai Desa Rambat, Simpangteritip, Bangka Barat, hiduplah sepasang
suami istri yang hidup sebagai nelayan.
Sajid dan Saedah begitulah orang-orang memanggilnya. Mereka tidak dikaruniai keturunan. Meskipun
hidup sederhana di sebuah gubuk tua yang hanya beratapkan daun rumbia, mereka
tidak pernah mengeluh.
Saat
sore hari Sajid mencari ikan di laut hingga pagi hari. Saedah sesekali mencari lokan di pinggir pantai atau menganyam
tikar pandan untuk dijual ke pasar.
Pada
suatu hari Sajid hendak pergi mencari
ikan ia berpamitan dengan istrinya.
”Istriku, hari ini aku akan pergi
mencari ikan,mudah-mudahan banyak hasil yang akan diperoleh hari ini,” kata
Sajid.
“Iya bang,cepatlah
pulang,” jawab Saedah, sambil memberikan bekal kepada suaminya.
Kemudian
berangkatlah Sajid menuju pantai. Sambil
menunggu air pasang ia mempersiapkan jaringnya.
Sesaat matanya tertuju pada seekor umang-umang
[1]yang
berjalan tanpa cangkang.
Tak
lama kemudian Sajid menemukan cangkang keong laut yang kosong di dekatnya, perlahan
ia meletakkannya dekat umang-umang itu. Segera umang-umang itu masuk ke dalam cangkang. Sajid hendak mendekati, tetapi
umang-umang itu masuk ke dalam cangkang barunya. Sajid meniupnya perlahan lalu meletakkan di
atas pasir. Selepasnya, Sajid
menyisipkan secuil nasi di capit umang-umang
itu. Sajid pun pergi menuju ke arah
perahu dan perlahan mendorongnya ke lautan lepas.
Pada
pagi hari berikutnya, Sajid pulang dengan membawa ikan hasil tangkapannya. Di rumah Saedah sudah menunggu di depan
pintu.
“Istriku, lihatlah
hasil tangkapanku semalam, bawalah ke pasar untuk ditukar dengan beras,” seru
Sajid.
Dengan cekatan Saedah mengambil kembu [2] berisi ikan yang dibawa
suaminya lalu memilahnya sebagian untuk dijadikan lauk. Setelah itu Saedah bergegas menuju ke pasar
untuk menukarnya dengan beras.
***
Suatu
ketika Sajid pergi melaut tetapi tidak mendapatkan seekor pun ikan. Ia duduk termenung di antara hamparan pasir
Pantai Rambat yang lantai. Ia bergumam, ”Hari
ini tak ada seekorpun ikan yang dapat aku jala. Periuk pun sudah hampir
kosong, apa yang harus aku katakan kepada istriku?”
Tanpa ia sadari
seekor umang-umang berada di
sampingnya dan diam-diam masuk ke kembu yang
masih kosong. Kemudian bergegaslah Sajid
pulang ke rumah.
Sesampainya
di rumah ia berkata kepada Saedah, ”Istriku, hari ini aku tidak mendapatkan
ikan seekor pun.”
”Tidak apalah Bang,
kita masih ada sedikit beras, kita bisa membuat bubur untuk sehari,” jawab
Saedah. Kemudian Sajid meletakkan kembunya dekat periuk beras.
Keesokan
harinya Sajid seperti biasa dia pergi melaut ternyata cuaca sedang tak
bersahabat, gelombang tinggi menyurutkan niatnya untuk mencari ikan. Lagi-lagi, Sajid pun kembali pulang ke rumah
dengan tangan hampa. Perlahan ia membuka
pintu, tak didapatinya Saedah.
“Mungkin dia mencari
pandan untuk dibuat tikar,” pikirnya.
Lalu
ia membuka tudung saji, betapa terkejutnya Sajid karena banyak makanan yang
telah dihidangkan di meja. Karena lapar,
tanpa pikir panjang ia mulai menikmati lempah
kuning [3]yang lezat. Tak ketinggalan
lalapan segardan sambal belacan [4]pun
ia santap dengan lahapnya, ada juga penganan pelite [5]sebagai
penutup.
Setelah kenyang, Sajid baru menyadari dan
mulai berpikir dari mana semua makanan berlimpah nan nikmat ini. Biasanya mereka hanya mendapatkan rejeki yang
secukupnya, hasil dari mencari ikan dan hasil dari Saedah mencari lokan [6]di musim
tertentu, membuat tikar juga tak mendapat hasil seberapa.
Tak
lama kemudian Saedah datang, ia datang membawa sekantong beras dan sedikit
sayuran. Dengan penuh selidik Sajid
bertanya pada istrinya. “Istriku, dari mana nasi dan lauk di meja makan tadi?”
Saedah heran dengan
pertanyaan suaminya, “Aku tak tahu Bang, aku baru saja pulang dari pasar
menjual anyaman tikar pandan.”
Keduanya saling
bertatapan sejenak. Bergegas mereka masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya
Saedah melihat makanan di meja. Di
dorong rasa lapar akhirnya ia memberanikan diri untuk makan juga.
“Kita harus bersyukur
Bang, mungkin ini rejeki dari Yang Maha Kuasa untuk kita,” kata Saedah penuh
haru.
“Iya, semoga orang
yang telah berbuat baik pada kita mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa. Tetapi, aku penasaran siapa orang yang menyediakan ini?” timpal Sajid.
“Nanti aku coba tanya
pada tetangga di ujung sana,” ujar Saedah
sambil memasukan beras yang ia bawa dari pasar ke dalam periuk.
Saedah melihat seekor
umang-umang di sana, tak ingin mengusik, Saedah menaruh berasnya dengan sangat
hati-hati. “Mungkin Bang Sajid yang membawanya.” Pikir Saedah.
Keesokan
harinya, mereka bangun pagi-pagi sekali.
Seketika kedua suami istri itu terperangah saat melihat meja makan mereka sudah
tersaji makanan yang masih hangat. Tanpa
lupa mengucap syukur mereka menikmati sarapan mereka.
Beberapa
hari berlalu, masih saja ada makanan tersaji di meja mereka. Rasa penasaran mereka semakin menjadi-jadi.
“Bang dari mana semua
makanan ini, sampai saat ini tak ada yang tahu siapa yang menyediakan makanan
ini!” tanya Saedah keheranan.
“Iya, istriku, walau
kita tidak bisa membalas budi baiknya, setidaknya kita bisa mengucapkan terima
kasih kepadanya,” sahut Sajid.
“Sebaiknya kita
segara mencari tahu, Bang! Aku tak sabar lagi mengetahui siapa penolong kita
selama ini!”
Lalu mereka saling
berbisik untuk merencanakan sesuatu.
“Ayo Istriku, kita ke
pasar, ada yang hendak aku beli di sana.” Seru Sajid pada Saedah sambil
mengedipkan matanya.
Lalu mereka keluar rumah dan bersembunyi di balik
tumpukan kayu bakar di halaman rumah
menunggu apa yang akan terjadi.
Sesaat kemudian
terdengar suara wanita bersenandung di dapur mereka. Dengan berjingkat Sajid
dan Saedah mendekati pintu dan membukanya perlahan. Mereka mengintip-intip di
balik cela pintu
Mereka tidak
menyangka dengan apa yang mereka lihat. Sosok gadis cantik dengan rambut
panjang terurai, kulitnya putih bersih, dengan baju kurung berwarna merah dan
selendang cual yang serasi,
penampilannya anggun bak putri bangsawan Melayu. Secepatnya Sajid membuka
pintu. Gadis itu pun seketika
terperanjat melihat Sajid dan Saedah telah berdiri di depan pintu.
“Siapa
kau wahai, Putri?” Tanya Sajid keheranan.
“Aku adalah
umang-umang yang kau tolong waktu itu, kau mencarikan aku rumah cangkang yang
sesuai dengan tubuhku dan memberiku makanan,” jawab gadis itu.
Sajid kembali mengingat
kejadian itu.
“Aku juga sering
melihat kau selalu menjaga kebersihan pantai dan keasrian terumbu karang di
dasar laut. Aku merasa sangat tersentuh melihat masih ada manusia yang peduli
dengan kelestarian pantai ini.”
“Inilah caraku
membalas budi baikmu karena telah menolongku. Karena kalian telah mengetahui
jati diriku, sekarang waktuku untuk kembali ke laut lepas tetapi berjanjilah
untuk menjaga laut dengan baik.” Lalu gadis itu pun tiba-tiba menjelma menjadi
seekor umang-umang. Sajid dan Saedah mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima
kasih lalu menatap kepergian umang-umang yang perlahan bergerak menuju pantai.
Keajaiban
terjadi. Periuk yang mereka miliki
selalu penuh dengan beras dan tak pernah habis.
Jaring yang dimiliki Sajid selalu memperoleh hasil tangkapan yang
melimpah.
Semakin hari Sajid
semakin bertambah kaya, ia bisa membuat rumah yang lebih layak dan kapal besar yang memuat lebih banyak
ikan. Ia menjadi saudagar besar yang
memiliki beberapa kapal besar penangkap ikan.
Saedah pun tak perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka hidup bergelimangan harta dari hasil
laut.
Waktu berlalu,
kekayaan membuat Sajid dan Saedah lupa diri. Sajid dan Saedah mengingkari
janjinya, berubah menjadi sombong dan serakah.
Mereka lupa untuk bersyukur atas harta kekayaan yang mereka
dapatkan. Sajid hanya memikirkan
bagaimana mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya, ia menangkap semua ikan besar
maupun kecil. Ia tak peduli bila ikan
perlu berkembang biak untuk memperbanyak generasinya. Kapal-kapal melempar sauh [7]di tengah laut hingga
menghancurkan terumbu karang, sebagai tempat hidup ikan-ikan.
Suatu hari salah satu
pekertjanya hanya memperoleh sedikit ikan, Sajid dengan penuh kemarahan
menghardiknya dengan kasar. “Hai pemalas, apa kerjamu hari ini, hanya mendapat ikan sedikit. Dasar manusia tak berguna!” Maki Sajid sambil
memukulnya.
Tiba-tiba seketika awan berubah menjadi gelap,
angin bertiup sangat kencang, halilintar menyambar, suara gemuruh
bersahut-sahutan, ombak yang semula mengalun dengan tenang seketika berubah
menjadi gelombang tinggi, menghempaskan kapal-kapal milik Sajid. Angin topan bergerak ke arah rumah Sajid yang
mewah dan menghancurkan semuanya. Sajid
berlari mencari istrinya. Ia mendapati
istrinya yang sedang duduk menangis di depan reruntuhan rumah mereka. Semua kekayaan mereka lenyap seketika menjadi
remah-remahan cangkang dan batu koral yang berserakan.
Dari
arah tengah laut tampaklah gadis yang dulu pernah mereka kenal. Dengan mata merah menyala penuh amarah gadis
itu mendekati Sajid dan Saedah. Semakin mendekat tubuh gadis itu kian
membesar. Sajid dan Saedah bersimpuh
ketakutan, tubuh mereka gemetar hingga tak satu katapun dapat terucap dari
bibirnya.
“Kalian masih
mengingatku?” tanya gadis itu dengan
nada tinggi. “ I..iiya...!” jawab Sajid
terbata-bata. Ia kembali teringat
pertemuannya dengan umang-umang itu.
“Aku adalah seorang
peri laut yang bertapa untuk menyempurnakan diri, aku berubah menjadi
umang-umang dan harus mencari orang yang
baik dan berhati murni sebagai syarat terakhir pertapaanku.” Gadis itu
mulai menangis.
“Tetapi kalian melupakan
janji untuk menjaga laut ini”, lanjutnya. “Rumahku tak sebatas hanya cangkang
kosong, tetapi lautan ini juga rumahku, seluruh alam ini adalah rumahku!” serunya
dengan nada meninggi.
Sajid
dan Saedah menangis tersedu-sedu, menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan. Karena keserakahan
mereka, apa yang mereka miliki kini
lenyap seketika.
“Maafkan
kami, Peri! Kami tak akan mengulanginya lagi!” kata Saedah sambil menangis.
“Sudah terlambat dan
semua tak bisa kembali lagi, aku telah gagal menilai hati kalian. Karena kalian telah melanggar janji, semua yang
kalian miliki telah lenyap akibat keserakahan kalian sendiri. Ikan-ikan hampir punah karena tidak bisa
berkembang biak! Keserakahan tidak layak mendapatkan kenikmatan yang diberikan
alam semesta!” kata gadis itu lirih.
“Kini aku tak dapat
menyempurnakan diri. Aku akan tetap menjadi umang-umang, salah satu penghuni
lautan ini,” lanjutnya.
Awan
mulai kembali cerah, ombak beriak perlahan, angin pun bertiup dengan tenangnya.
Sang peri mulai mengecil perlahan kembali menjadi umang-umang. Ia berjalan dengan langkah kecilnya di atas
hamparan pasir yang luas menuju ke bebatuan karang.
Sajid dan Saedah
menatap kepergian umang-umang dengan sedih. Permohonan maaf mereka tiada
berguna lagi. Sang peri kini hidup
sebagai umang-umang biasa tak bisa memberikan keajaiban, mereka harus kembali
bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja keras.
Dengan perasaan
menyesal mereka melihat sekeliling pantai,semua hancur porak poranda tak ada
satupun yang tersisa. Semua perahu dan
kapal yang mereka miliki telah hancur berkeping-keping, pepohonan di pinggir
pantai tumbang berserakan. Perlahan
Sajid dan Saedah membersihankan bibir pantai itu dari puing-puing kapal dan
pepohonan.
“Istriku, entah
bagaimana kita harus memohon ampunan! Kita harus memulai memperbaiki alam ini
dengan membersihkan dan memelihara pantai ini,” kata Sajid kepada istrinya.
“Iya Bang, kita sudah bersalah melanggar janji
peri laut itu. Semua yang sudah terjadi
tak kan mungkin akan kembali, nasi sudah menjadi bubur,” sahut Saedah.
Sajid dan Saedah memulai kehidupan
mereka seperti dulu, bersahaja namun mereka tetapbersyukur kepada Yang Maha
Kuasa atas rejeki yang diterima. Mereka
juga berjanji untuk menjaga pantai, menjaga kelestariannya supaya semua mahluk yang
hidup di laut dapat hidup sebagaimana mestinya. Sajid hanya menjaring ikan yang
besar, agar ikan yang kecil dapat tumbuh besar dan berkembang biak. Namun, kesedihan atas kebodohan mereka belum
pupus. Sementara, Peri laut tetap menjadi umang-umang,
umang-umang yang setia diantara pasir
putih Pantai Rambat, yang mengingatkan manusia untuk selalu menjaga kelestarian
lingkungan.
·
Umang-umang menjadi salah satu
biota laut yang habitatnya berada di
tepi pantai. Dalam ekosistem laut,
umang-umang menjadi barometer kebersihan pantai. Semakin kelestariannya terjaga,semakin banyak
pula biota laut yang hidup di sana.Umang-umang juga banyak ditemukan di
sepanjang pantai di kawasan Bangka Barat.
[1]
Umang-umang: Binatang pantai,
Kelomang (Dardanus calidus)
[2] Kembu
: tempat menyimpan ikan terbuat dari bambu
[3] Lempah
Kuning : Makanan khas Bangka sejenis gulai ikan.
[4] Sambal
Belacan : Terasi khas Bangka.
[5] Penganan
Pelite : Kue khas Bangka Barat.
[6] Lokan :
Sejenis kerang laut yang ada di dalam pasir pantai, sering dijadikan lauk oleh
Masyarakat Bangka Barat.
[7] Sauh:
Jangkar
Dikarang oleh Kezia Agatha
(Naskah ini menjadi juara III Lomba Penulisan Cerita Rakyat Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat tahun 2016 Kategori Umum)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar