Minggu, 05 Februari 2017

Peri Umang-Umang dan Keluarga Nelayan


            Alkisah di pesisir pantai Desa Rambat, Simpangteritip, Bangka Barat, hiduplah sepasang suami istri yang hidup sebagai nelayan.  Sajid dan Saedah begitulah orang-orang memanggilnya.  Mereka tidak dikaruniai keturunan. Meskipun hidup sederhana di sebuah gubuk tua yang hanya beratapkan daun rumbia, mereka tidak pernah mengeluh.
            Saat sore hari Sajid mencari ikan di laut hingga pagi hari. Saedah sesekali mencari lokan di pinggir pantai atau menganyam tikar pandan untuk dijual ke pasar.
            Pada suatu hari  Sajid hendak pergi mencari ikan ia berpamitan dengan istrinya.
”Istriku, hari ini aku akan pergi mencari ikan,mudah-mudahan banyak hasil yang akan diperoleh hari ini,” kata Sajid.
“Iya bang,cepatlah pulang,” jawab Saedah, sambil memberikan bekal kepada suaminya.
            Kemudian berangkatlah Sajid menuju pantai.  Sambil menunggu air pasang ia mempersiapkan jaringnya.  Sesaat matanya tertuju pada seekor umang-umang [1]yang berjalan tanpa cangkang.
           Tak lama kemudian Sajid menemukan cangkang keong laut yang kosong di dekatnya, perlahan ia meletakkannya dekat umang-umang itu. Segera umang-umang itu masuk ke dalam cangkang. Sajid hendak mendekati, tetapi umang-umang itu masuk ke dalam cangkang barunya.  Sajid meniupnya perlahan lalu meletakkan di atas pasir.  Selepasnya, Sajid menyisipkan secuil nasi di capit umang-umang itu.  Sajid pun pergi menuju ke arah perahu dan perlahan mendorongnya ke lautan lepas.
            Pada pagi hari berikutnya, Sajid pulang dengan membawa ikan hasil tangkapannya.  Di rumah Saedah sudah menunggu di depan pintu. 
“Istriku, lihatlah hasil tangkapanku semalam, bawalah ke pasar untuk ditukar dengan beras,” seru Sajid.
Dengan cekatan  Saedah mengambil kembu [2] berisi ikan yang dibawa suaminya lalu memilahnya sebagian untuk dijadikan lauk.  Setelah itu Saedah bergegas menuju ke pasar untuk menukarnya dengan beras.
***
            Suatu ketika Sajid pergi melaut tetapi tidak mendapatkan seekor pun ikan.  Ia duduk termenung di antara hamparan pasir Pantai Rambat yang lantai.  Ia bergumam, ”Hari ini tak ada seekorpun ikan yang dapat aku jala.  Periuk pun sudah hampir kosong, apa yang harus aku katakan kepada istriku?” 
Tanpa ia sadari seekor umang-umang berada di sampingnya dan diam-diam masuk ke kembu yang masih kosong.  Kemudian bergegaslah Sajid pulang ke rumah.


                                    https://farm3.staticflickr.com/2503/4169536692_258a8a7caf_z.jpg

            Sesampainya di rumah ia berkata kepada Saedah, ”Istriku, hari ini aku tidak mendapatkan ikan seekor pun.”
”Tidak apalah Bang, kita masih ada sedikit beras, kita bisa membuat bubur untuk sehari,” jawab Saedah.  Kemudian Sajid meletakkan kembunya dekat periuk beras.
            Keesokan harinya Sajid seperti biasa dia pergi melaut ternyata cuaca sedang tak bersahabat, gelombang tinggi menyurutkan niatnya untuk mencari ikan.  Lagi-lagi, Sajid pun kembali pulang ke rumah dengan tangan hampa.  Perlahan ia membuka pintu, tak didapatinya Saedah.
“Mungkin dia mencari pandan untuk dibuat tikar,” pikirnya.
            Lalu ia membuka tudung saji, betapa terkejutnya Sajid karena banyak makanan yang telah dihidangkan di meja.  Karena lapar, tanpa pikir panjang ia mulai menikmati lempah kuning [3]yang lezat. Tak ketinggalan lalapan segardan sambal belacan [4]pun ia santap dengan lahapnya, ada juga  penganan pelite [5]sebagai penutup.
             Setelah kenyang, Sajid baru menyadari dan mulai berpikir dari mana semua makanan berlimpah nan nikmat ini.  Biasanya mereka hanya mendapatkan rejeki yang secukupnya, hasil dari mencari ikan dan hasil dari Saedah mencari lokan [6]di musim tertentu, membuat tikar juga tak mendapat hasil seberapa. 
            Tak lama kemudian Saedah datang, ia datang membawa sekantong beras dan sedikit sayuran.  Dengan penuh selidik Sajid bertanya pada istrinya. “Istriku, dari mana nasi dan lauk di meja makan tadi?”
Saedah heran dengan pertanyaan suaminya, “Aku tak tahu Bang, aku baru saja pulang dari pasar menjual anyaman tikar pandan.”
Keduanya saling bertatapan sejenak. Bergegas mereka masuk ke dalam rumah. Betapa terkejutnya Saedah melihat makanan di meja.  Di dorong rasa lapar akhirnya ia memberanikan diri untuk makan juga.
“Kita harus bersyukur Bang, mungkin ini rejeki dari Yang Maha Kuasa untuk kita,” kata Saedah penuh haru. 
“Iya, semoga orang yang telah berbuat baik pada kita mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa.  Tetapi, aku penasaran siapa  orang yang menyediakan ini?” timpal Sajid.
“Nanti aku coba tanya pada tetangga di ujung sana,”  ujar Saedah sambil memasukan beras yang ia bawa dari pasar ke dalam periuk.
Saedah melihat seekor umang-umang di sana, tak ingin mengusik, Saedah menaruh berasnya dengan sangat hati-hati. “Mungkin Bang Sajid yang membawanya.” Pikir Saedah.
            Keesokan harinya, mereka bangun  pagi-pagi sekali. Seketika kedua suami istri itu terperangah saat melihat meja makan mereka sudah tersaji makanan yang masih hangat.  Tanpa lupa mengucap syukur mereka menikmati sarapan mereka.
            Beberapa hari berlalu, masih saja ada makanan tersaji di meja mereka.  Rasa penasaran mereka semakin menjadi-jadi.
“Bang dari mana semua makanan ini, sampai saat ini tak ada yang tahu siapa yang menyediakan makanan ini!” tanya Saedah keheranan.
“Iya, istriku, walau kita tidak bisa membalas budi baiknya, setidaknya kita bisa mengucapkan terima kasih kepadanya,” sahut Sajid.
“Sebaiknya kita segara mencari tahu, Bang! Aku tak sabar lagi mengetahui siapa penolong kita selama ini!”
Lalu mereka saling berbisik untuk merencanakan sesuatu.
“Ayo Istriku, kita ke pasar, ada yang hendak aku beli di sana.” Seru Sajid pada Saedah sambil mengedipkan matanya.
            Lalu  mereka keluar rumah dan bersembunyi di balik tumpukan kayu  bakar di halaman rumah menunggu apa yang akan terjadi.
Sesaat kemudian terdengar suara wanita bersenandung di dapur mereka. Dengan berjingkat Sajid dan Saedah mendekati pintu dan membukanya perlahan. Mereka mengintip-intip di balik cela pintu
Mereka tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. Sosok gadis cantik dengan rambut panjang terurai, kulitnya putih bersih, dengan baju kurung berwarna merah dan selendang cual yang serasi, penampilannya anggun bak putri bangsawan Melayu. Secepatnya Sajid membuka pintu.  Gadis itu pun seketika terperanjat melihat Sajid dan Saedah telah berdiri di depan pintu.
            “Siapa kau wahai, Putri?” Tanya Sajid keheranan.
“Aku adalah umang-umang yang kau tolong waktu itu, kau mencarikan aku rumah cangkang yang sesuai dengan tubuhku dan memberiku makanan,” jawab gadis itu.
Sajid kembali mengingat kejadian itu.
“Aku juga sering melihat kau selalu menjaga kebersihan pantai dan keasrian terumbu karang di dasar laut. Aku merasa sangat tersentuh melihat masih ada manusia yang peduli dengan kelestarian pantai ini.”
“Inilah caraku membalas budi baikmu karena telah menolongku. Karena kalian telah mengetahui jati diriku, sekarang waktuku untuk kembali ke laut lepas tetapi berjanjilah untuk menjaga laut dengan baik.” Lalu gadis itu pun tiba-tiba menjelma menjadi seekor umang-umang. Sajid dan Saedah mengangguk dan tak lupa mengucapkan terima kasih lalu menatap kepergian umang-umang yang perlahan bergerak menuju pantai.
            Keajaiban terjadi. Periuk  yang mereka miliki selalu penuh dengan beras dan tak pernah habis.  Jaring yang dimiliki Sajid selalu memperoleh hasil tangkapan yang melimpah.
Semakin hari Sajid semakin bertambah kaya, ia bisa membuat rumah yang lebih layak  dan kapal besar yang memuat lebih banyak ikan.  Ia menjadi saudagar besar yang memiliki beberapa kapal besar penangkap ikan.  Saedah pun tak perlu bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhannya.  Mereka hidup bergelimangan harta dari hasil laut.
Waktu berlalu, kekayaan membuat Sajid dan Saedah lupa diri. Sajid dan Saedah mengingkari janjinya, berubah menjadi sombong dan serakah.  Mereka lupa untuk bersyukur atas harta kekayaan yang mereka dapatkan.  Sajid hanya memikirkan bagaimana mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya, ia menangkap semua ikan besar maupun kecil.  Ia tak peduli bila ikan perlu berkembang biak untuk memperbanyak generasinya.  Kapal-kapal melempar sauh [7]di tengah laut hingga menghancurkan terumbu karang, sebagai tempat hidup ikan-ikan.
Suatu hari salah satu pekertjanya hanya memperoleh sedikit ikan, Sajid dengan penuh kemarahan menghardiknya dengan kasar. “Hai pemalas, apa kerjamu hari ini,  hanya mendapat ikan sedikit.  Dasar manusia tak berguna!” Maki Sajid sambil memukulnya.
             Tiba-tiba seketika awan berubah menjadi gelap, angin bertiup sangat kencang, halilintar menyambar, suara gemuruh bersahut-sahutan, ombak yang semula mengalun dengan tenang seketika berubah menjadi gelombang tinggi, menghempaskan kapal-kapal milik Sajid.  Angin topan bergerak ke arah rumah Sajid yang mewah dan menghancurkan semuanya.  Sajid berlari mencari istrinya.  Ia mendapati istrinya yang sedang duduk menangis di depan reruntuhan rumah mereka.  Semua kekayaan mereka lenyap seketika menjadi remah-remahan cangkang dan batu koral yang berserakan.
            Dari arah tengah laut tampaklah gadis yang dulu pernah mereka kenal.  Dengan mata merah menyala penuh amarah gadis itu mendekati Sajid dan Saedah. Semakin mendekat tubuh gadis itu kian membesar.  Sajid dan Saedah bersimpuh ketakutan, tubuh mereka gemetar hingga tak satu katapun dapat terucap dari bibirnya.
“Kalian masih mengingatku?”  tanya gadis itu dengan nada tinggi.  “ I..iiya...!” jawab Sajid terbata-bata.  Ia kembali teringat pertemuannya dengan umang-umang itu.
“Aku adalah seorang peri laut yang bertapa untuk menyempurnakan diri, aku berubah menjadi umang-umang dan harus mencari orang yang  baik dan berhati murni sebagai syarat terakhir pertapaanku.” Gadis itu mulai menangis.
“Tetapi kalian melupakan janji untuk menjaga laut ini”, lanjutnya. “Rumahku tak sebatas hanya cangkang kosong, tetapi lautan ini juga rumahku, seluruh alam ini adalah rumahku!” serunya dengan nada meninggi.
            Sajid dan Saedah menangis tersedu-sedu, menyadari kesalahan yang  telah mereka lakukan. Karena keserakahan mereka, apa yang  mereka miliki kini lenyap seketika.
            “Maafkan kami, Peri! Kami tak akan mengulanginya lagi!” kata Saedah sambil menangis.
“Sudah terlambat dan semua tak bisa kembali lagi, aku telah gagal menilai hati kalian.  Karena kalian telah melanggar janji, semua yang kalian miliki telah lenyap akibat keserakahan kalian sendiri.  Ikan-ikan hampir punah karena tidak bisa berkembang biak! Keserakahan tidak layak mendapatkan kenikmatan yang diberikan alam semesta!” kata gadis itu lirih.
“Kini aku tak dapat menyempurnakan diri. Aku akan tetap menjadi umang-umang, salah satu penghuni lautan ini,” lanjutnya.
            Awan mulai kembali cerah, ombak beriak perlahan, angin pun bertiup dengan tenangnya. Sang peri mulai mengecil perlahan kembali menjadi umang-umang.  Ia berjalan dengan langkah kecilnya di atas hamparan pasir yang luas menuju ke bebatuan karang.
Sajid dan Saedah menatap kepergian umang-umang dengan sedih. Permohonan maaf mereka tiada berguna lagi.  Sang peri kini hidup sebagai umang-umang biasa tak bisa memberikan keajaiban, mereka harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja keras.
Dengan perasaan menyesal mereka melihat sekeliling pantai,semua hancur porak poranda tak ada satupun yang tersisa.  Semua perahu dan kapal yang mereka miliki telah hancur berkeping-keping, pepohonan di pinggir pantai tumbang berserakan.  Perlahan Sajid dan Saedah membersihankan bibir pantai itu dari puing-puing kapal dan pepohonan.
“Istriku, entah bagaimana kita harus memohon ampunan! Kita harus memulai memperbaiki alam ini dengan membersihkan dan memelihara pantai ini,” kata Sajid kepada istrinya.
 “Iya Bang, kita sudah bersalah melanggar janji peri laut itu.  Semua yang sudah terjadi tak kan mungkin akan kembali, nasi sudah menjadi bubur,” sahut Saedah.
            Sajid dan Saedah memulai kehidupan mereka seperti dulu, bersahaja namun mereka tetapbersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas rejeki yang diterima.  Mereka juga berjanji untuk menjaga pantai, menjaga kelestariannya supaya semua mahluk yang hidup di laut dapat hidup sebagaimana mestinya. Sajid hanya menjaring ikan yang besar, agar ikan yang kecil dapat tumbuh besar dan berkembang biak.  Namun, kesedihan atas kebodohan mereka belum pupus. Sementara, Peri laut tetap menjadi umang-umang, umang-umang yang setia diantara pasir putih Pantai Rambat, yang mengingatkan manusia untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan.

·         Umang-umang menjadi salah satu biota laut yang habitatnya  berada di tepi pantai.  Dalam ekosistem laut, umang-umang menjadi barometer kebersihan pantai.  Semakin kelestariannya terjaga,semakin banyak pula biota laut yang hidup di sana.Umang-umang juga banyak ditemukan di sepanjang pantai di kawasan Bangka Barat.





[1] Umang-umang: Binatang pantai, Kelomang (Dardanus calidus)
[2] Kembu : tempat menyimpan ikan terbuat dari bambu
[3] Lempah Kuning : Makanan khas Bangka sejenis gulai ikan.
[4] Sambal Belacan : Terasi khas Bangka.
[5] Penganan Pelite : Kue khas Bangka Barat.
[6] Lokan : Sejenis kerang laut yang ada di dalam pasir pantai, sering dijadikan lauk oleh Masyarakat Bangka Barat.
[7] Sauh: Jangkar


Dikarang oleh Kezia Agatha


(Naskah ini menjadi juara III Lomba Penulisan Cerita Rakyat Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat tahun 2016 Kategori Umum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar