Minggu, 05 Februari 2017

Tipe Bocah Ilang Sampai ke Tipe Si Ahok

Setelah melalui pengamatan yang seksama (jiahhh, ketahuan tukang kepo), sebagai guru Saya terpanggil untuk menulis kategori siswa. Dua tahun jadi guru bersentuhan dengan anak-anak dan remaja, sempatlah mendalami  karakter para siswa. Jika orang membagi hal dan benda ke dalam kategori, Saya juga ingin membagi anak-anak didik berdasarkan tipe berikut ini. (Ini Cuma iseng-iseng menghibur dan tidak ada manfaatnya, jadi jangan dimasukan ke dalam hati. Yah, kalau mau menganggap ini sampah, silahkan!)
Coba cek kamu masuk tipe yang mana?
  1. Tipe Bolang (Bocah Ilang)
    “Luar biasa liarnya murid ini!” begitulah celetukan guru saat menghadapi bocah badung. Tidak hanya di SD, ataupun SMP, sampai SMA pun banyak karakter siswa yang doyannya bergerak, dari tangan, kaki hingga mulut. Anak tipe ini suka usil, ganggu teman, doyan berantem, dan berjiwa preman. Kadang-kadang ada yang suka malak teman yang cupu ataupun adek kelasnya. Dia ga betah duduk di kelas. Kalau guru sedang mengajar, dia bisa iseng bikin kerajinan tangan dari kertas kecil lalu dilempar-lempar ke temannya. Buku tulisnya gado-gado. Pada satu buku yang sama, di halaman depan ada pelajaran Matematika, di tengah ada Bahasa Inggris, di lembar berikutnya ada catatan IPS. Dihukum guru, dipanggil orang tuanya ke sekolah, kagak mempan. Selain suka olahraga atau PJOK, pelajaran favoritnya adalah pelajaran kosong. Nah ini tipe bocah ilang. Ga jelas tujuan dia ke sekolah mau ngapain. Walau demikian, bocah ilang paling melekat di hati guru karena sering digosipin dan diingat sampai bertahun-tahun oleh guru dan teman sekelasnya apalagi kalau dia pernah bikin ulah tak henti-hentinya.
      

  2. Tipe (NTL) Nothing To Lose
    Dia nggak nakal seperti bocah ilang. Juga banyak diam di kelas. Kadang ia sering di-bully teman-temannya. Ia juga berusaha menunjukkan konsentrasi saat guru mengajar, sangkin konsennya kadang tatapannya kosong dan mulutnya terbuka memperhatikan gurunya. Sayangnya, ketika guru bertanya tentang pelajaran, jawabannya tidak pernah nyambung. Saat ulangan, ia paling cepat selesai. Dapat nilai 50 pun sudah senang bukan kepalang. Walau diomeli guru, ia tetap tegar dan menganggukkan kepala, tetapi tetaplah tidak ada kemajuan. Nothing to lose, kira-kira demikian karakternya. Mau berapapun hasilnya, pasrah, “aku sudah belajar, kok, tapi kemampuanku cuma segini!”.  Finally, guru tak tega memberi nilai apa adanya untuk si NTL, “yah inilah nilai kasih sayang untukmu, Nak!” Memang sih, pengamat dan psikolog pendidikan mengatakan tidak ada anak yang bodoh, tetapi ketika kau berhadapan dengan anak seperti ini, ntah lah, sudah habis kesabaran sebagai guru. Mungkin ilmu Saya untuk membangkitkan motivasi belajar anak harus diperdalam lagi!

  3. Tipe PHP (Pemberi Harapan Palsu)
    Awal jadi guru, masuk kelas pertama kali, aku sempat terkecoh. Beberapa siswa ada yang mau menunjukkan dirinnya “aku ini pintar loh!” dan sok cari perhatian guru. Saat guru bertanya, dia cepat-cepat angkat tangan mau menjawab (padahal asal menjawab). Saat guru memberi tugas dengan detail-detailnya, dia angkat tangan ingin bertanya, seolah terlihat aktif, padahal yang ia tanyakan sudah dijelaskan. Ia pun sering tampil di kelas, sok-sok bantuin guru merapikan dan membawa berkas, ngumpulin buku dan lain-lain. Ia suka cari perhatian guru, saat istirahat sok dekat dengan guru.  Awalnya guru yang baru berhadapan dengannya berkata dalam hati ‘wah, anak ini kayaknya lumayan lah’. Nah, saat ulangan hasilnya mengecewakan. “PHP kamu, nak!”

  4. Tipe  Si Ahok
    Tahu kan Ahok, cagub DKI yang lagi nge-hits itu! Ia pintar, tegas, kerja keras, lurus tetapi banyak dibenci pejabat-pejabat korup (Alah! Ngomongin politik lagi!). Nah, tipe anak seperti Ahok ini juga banyak terlihat di kelas. Anak ini pintar dalam akademik, nilainya bagus-bagus. Di sekolah juga sangat patuh, ga neko-neko. Dia juga bisa menjadi asisten guru di kelas. Saat guru meninggalkan kelas, ia sering dipercaya untuk mencatat nama-nama teman sekelasnya yang ribut. Ia juga sering melaporkan kenakalan-kenakalan temannya kepada guru. Saat guru masuk kelas dan belum menempelkan pantatnya di kursi guru, ia sudah dengan cekatan mengatakan “Pak/Bu, ada PR!”, sementara waktu itu banyak teman yang tidak mengerjakan PR. Saat ulangan, ia menutup rapat lembar jawabannya dan mendadak tuli. Ada teman yang memanggil dengan bisikan “Sssstttt!”, ia akan pura-pura tidak mendengar. Tipe bocah ini disayang oleh guru, tetapi ia juga banyak dibenci oleh teman-teman sekelasnya. Apalagi saat guru memujinya “Coba kalian contohi si Ahok (bukan nama sebenarnya-red) ini, sudah rajin, disiplin lagi!”, kebencian pun semakin merajalela.

  5. Tipe Sok Artis
    Saat beranjak remaja, terlihat perubahan fisik dan psikologis anak. Beberapa dari mereka mulai mementingkan penampilannya dan menunjukkan kebutuhan ingin diperhatikan. Apalagi bocah yang memiliki paras menawan, mulai lah tebar pesona. Update status BBM dan gonta-ganti foto DP (Display Picture) bisa lebih dari 10 kali dalam sehari, foto selfi dengan bibir memble merah merona seperti lagi sariawan 10 biji hasil efek, memenuhi facebook dan instagramnya. Lalu foto-fotonya dihias dengan efek pipi merona, kuping kelinci, kumis kucing, hidung anjing, dan lain-lain(ini mau jadi artis atau siluman?).  Dinding laman Facebooknya berisikan curhat-curhat dan update kesehariannya. Ala-ala artis! Bukan hanya kepada teman-teman dan kakak kelasnya, ia juga tak ketinggalan menebar pesonanya pada guru, terutama pada guru muda dan kece (kayak gw huahahaha).

  6. Tipe Campuran
    Mungkin dari 1-5 kamu belum menemukan yang mana nih yang ‘Gw banget’! Karena bukan seorang psikologis, tentu susah buat saya untuk membuat rincian yang lebih mengena lagi. Mungkin saja ada tipe campuran, misalnya Si Bolang yang sok artis, atau Sok Artis yang suka PHP, atau Ahok suka sok artis, dan seterusnya.

    Mohon maaf bila tipe yang kamu banget belum ditulis di sini, boleh lah kamu tulis di kolom komentar untuk direvisi (kalau perlu dan kalau penulisnya sempet, hahahaha). Oh,ya, tulisan ini sekali lagi tidak bermaksud melecehkan para peserta didik. Walaupun karakter anak berbagai macam, bagi seorang Guru semua murid sama. Layaknya anak, mau bagaimana pun karakternya, ia tetap diasuh dan tetap dicurahkan ilmu yang berguna(cieee elah!). Guru sejatinya, tetap adil dan mendidik dengan sepenuh hati (mau lo sedekat apapun, kalau ada ulangan lo ga belajar, nilainya jelek, segitu ya segitulah nilai lo, anak lain remedial, lo juga remedial! Ga ada KKN!)

Salam Damai, Caw!!! (Jadi pengen martabak damai! Ada kah murid yang mau nyogok gurunya pakai martabak, Saya menerima, hahaha Just kidding!)
Ditulis oleh Guru Bahasa Dewa Tiongkok ^^v


                                      Mau pintar, mau nakal, mau pendiam, semua bocah rata-rata setipe mbak bule ini! 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar